Menjelang hari kelulusan sekolah, Tom sempat bingung karena tidak memiliki jas formal untuk dipakai. Papa dengan senang hati meminjamkan jas kesayangannya yang berwarna biru laut kepada Tom. Di hari acara, Tom memakainya dengan gembira. Saat ada teman atau guru yang memuji ketampanan jasnya, Tom tidak menyombongkan diri, melainkan menceritakan bahwa itu adalah jas ayahnya, sambil menjaganya dengan hati-hati agar bisa mengembalikannya dalam keadaan bersih.
Kisah Tom mengingatkan kita bahwa segala kelebihan, kepintaran, atau prestasi yang kita miliki bukanlah milik kita, melainkan titipan dari Tuhan. Sering kali, manusia dengan mudah merasa hebat ketika dipuji atas kemampuannya sendiri. Padahal, akal budi dan kesempatan itu sepenuhnya berasal dari Tuhan. Ketika kita menerima pujian, di situlah ujian hati terjadi. Kita dipanggil untuk menyadari bahwa Tuhan adalah pemilik aslinya, sehingga kita harus menjaga hati agar tetap rendah hati dan segera mengembalikan segala kemuliaan itu kepada-Nya. Sikap rohani inilah yang ditunjukkan oleh Yusuf dalam bacaan Alkitab hari ini dari Kejadian 41:14–24. Saat dipanggil menghadap raja Firaun untuk mengartikan mimpi, Yusuf tidak sedikit pun membanggakan kepintaran dirinya. Dengan tulus ia berkata kepada Firaun, "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." Yusuf sangat tahu bahwa karunia yang ia miliki adalah alat untuk memuliakan Allah, bukan untuk meninggikan diri sendiri. Karena Yusuf tetap rendah hati di hadapan Tuhan, Ia dipercayakan tanggung jawab besar hingga menjadi penguasa kedua di Mesir. Mari kita belajar untuk tidak pernah mencuri kemuliaan Tuhan, melainkan senantiasa hidup rendah hati dan memuji Dia dalam setiap pencapaian kita! [HJ]