Satu minggu lagi, sekolah Sharon akan memasuki masa libur semester. Sharon dan teman-temannya berencana untuk pergi berkemah bersama selama dua hari satu malam. Teman-temannya sangat antusias dan berniat untuk langsung membeli tiket perkemahan saat itu juga. Sharon sebenarnya tergiur untuk ikut membeli tiket, tetapi ia teringat bahwa ia harus meminta izin dan meminta petunjuk dari orang tuanya terlebih dahulu. Benar saja, ketika Sharon bertanya, orang tuanya tidak mengizinkannya pergi karena saat ini sedang musim hujan. Walaupun sempat merasa kecewa, Sharon memilih untuk taat pada keputusan orang tuanya. Ketika hari yang ditunggu-tunggu tiba, hujan deras dan cuaca buruk melanda area perkemahan tersebut. Sharon sangat bersyukur karena ia tidak terburu-buru mengambil keputusan dan mau mendengarkan nasihat orang tuanya.
Sikap tidak tergesa-gesa dan mau meminta petunjuk sebelum bertindak merupakan wujud dari hikmat Tuhan. Dalam Kejadian 24:1-10, ketika hamba Abraham diutus untuk menjalankan tugas penting mencari pasangan hidup bagi Ishak, hal pertama yang ia lakukan sebelum mengambil keputusan adalah berdoa dan memohon petunjuk dari Tuhan. Ia tidak bersandar pada pemikirannya sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan di setiap langkahnya. Demikian pula dengan kita, saat dihadapkan pada berbagai pilihan dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan rindu agar kita mengandalkan-Nya. Melalui buah Roh yang tertulis dalam Galatia 5:22-23—terutama penguasaan diri dan kebaikan—kita diajar untuk tidak memaksakan kehendak diri sendiri. Setiap kali hendak membuat keputusan, mari kita biasakan untuk berdoa memohon hikmat Tuhan dan mendengarkan arahan orang tua agar langkah kita selalu berada dalam perlindungan-Nya. [EF]