Pernahkah kamu menyimpan rasa marah atau kesal kepada adik, kakak, atau temanmu? Rasa dendam yang kita simpan itu seperti sebuah ransel yang diisi dengan batu-batu berat. Setiap kali kita menolak untuk memaafkan, kita seolah menambahkan batu baru ke dalamnya. Lama-kelamaan, ransel itu menjadi sangat berat dan membuat kita sendiri yang merasa lelah. Hal seperti inilah yang dirasakan oleh si anak sulung. Ketika pulang dari ladang dan melihat ayahnya membuat pesta besar untuk menyambut adiknya yang bertobat, ia merasa marah dan iri. Ia merasa tidak adil karena adiknya yang pernah bersalah justru disambut dengan meriah. Hatinya dipenuhi dengan "batu" kekesalan dan rasa dendam.
Di dalam bacaan Alkitab hari ini dari Lukas 15:25–32, kita melihat bagaimana sang ayah menanggapi kemarahan si anak sulung. Sang ayah tidak ikut marah, melainkan keluar menemuinya dan membujuknya dengan lembut. Ayahnya menjelaskan bahwa mereka harus bersukacita karena adiknya yang tadinya "hilang" kini telah kembali dan bertobat. Melalui kisah ini, kita belajar dua hal penting tentang hati Bapa di surga. Pertama, Tuhan selalu menyambut dengan sukacita setiap anak-Nya yang mau bertobat dan mengakui kesalahan. Kedua, Tuhan ingin kita memiliki hati yang mau mengampuni, bukan hati yang keras dan penuh rasa iri seperti si anak sulung. Mengampuni orang yang menyakiti kita memang tidak selalu mudah. Namun, saat kita mau memaafkan, kita sedang menurunkan "ransel batu" yang berat itu dari punggung kita, sehingga hati kita menjadi lega dan penuh dengan sukacita. Karena Tuhan sudah mengampuni kesalahan kita, mari kita belajar memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita. [AZ]