Brandon mengeluarkan semua isi tasnya hingga buku-buku dan peralatan sekolah berserakan di lantai kamar. Namun, ia tidak kunjung menemukan barang yang dicarinya. "Duh, celaka! Mama pasti akan memarahiku!" keluhnya sambil menepuk dahi. Sejak kemarin, Mama sudah mengingatkan Brandon agar tidak membawa mainan robot barunya ke sekolah. Namun, karena tidak sabar ingin memamerkannya kepada Kenneth, Brandon diam-diam membawa mainan tersebut. Sayangnya, mainan itu hilang di sekolah. Brandon merasa sangat sedih dan menyesal karena tidak mendengarkan nasihat Mamanya. Pernahkah kamu mengalami hal seperti Brandon?
Ketika kita tidak menuruti nasihat Papa dan Mama, sering kali hal buruk terjadi dan membuat kita merasa bersalah serta takut. Rasa bersalah ini serupa dengan kisah anak bungsu dalam Lukas 15:11–24. Anak bungsu tersebut meminta bagian warisannya, pergi jauh dari rumah ayahnya, dan menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang sia-sia hingga ia hidup sangat miskin dan kelaparan. Namun, di tengah penderitaannya, anak bungsu itu sadar akan kesalahannya. Ia memberanikan diri untuk pulang, mengakui kesalahannya, dan memohon ampun kepada ayahnya. Luar biasanya, sang ayah tidak memarahinya, melainkan menyambutnya dengan kasih dan sukacita yang besar. Kisah perumpamaan ini mengajarkan betapa besarnya kasih Allah Bapa kepada kita. Ketika kita berbuat salah, baik kepada Papa, Mama, teman, maupun Tuhan, Tuhan tidak ingin kita bersembunyi atau lari dalam ketakutan. Ia rindu kita berani mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan berbalik kembali berjalan di jalan yang benar. Yakinlah bahwa Bapa di surga selalu siap mengampuni dan memeluk kita kembali saat kita mau bertobat dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi. [RK]