Suatu hari, dua anak tupai bernama Timo dan Tobi diminta membawa hadiah untuk Raja Hutan, Sang Gorila. Timo membawa pisang, buah kesukaan Sang Raja, sedangkan Tobi membawa mangga yang dipetiknya dengan susah payah. Saat hadiah diberikan, Sang Raja langsung memakan pisang dari Timo. Tobi merasa kecewa dan iri. Ia mulai membandingkan dirinya dengan Timo, hingga suatu hari ia mendorong Timo saat bermain, sehingga terluka. Melihat hal itu, guru mereka menegur Tobi dan berkata bahwa hadiah Tobi juga baik, hanya saja kali ini Sang Raja memilih hadiah Timo. Guru mengingatkan Tobi untuk tidak iri, tetapi tetap melakukan yang terbaik. Sejak saat itu, Tobi belajar bersyukur dan kembali berteman baik dengan Timo.
Kisah ini mengingatkan kita pada Kejadian 4:1–10. Kain dan Habel sama-sama memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi Kain menjadi iri ketika persembahannya tidak diindahkan, sementara Habel diterima. Tuhan adalah Sang Pencipta yang melihat segalanya, termasuk isi hati kita. Tuhan sudah mengingatkan Kain untuk menguasai rasa irinya dan memilih melakukan yang benar, tetapi Kain tidak mau mendengarkan. Akibatnya, rasa iri menguasai hatinya dan membawanya kepada dosa yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa merasa iri ketika teman mendapat nilai yang lebih baik, mainan baru, atau pujian dari guru. Saat rasa iri muncul, jangan memeliharanya di dalam hati. Mari belajar bersyukurlah atas apa yang Tuhan berikan kepada kita dan tetap lakukan yang terbaik. Tuhan tidak melihat siapa yang paling hebat atau paling dipuji manusia, tetapi siapa yang memiliki hati yang tulus dan taat kepada-Nya. Jagalah hati kita dari rasa iri dan selalu pilih untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan! [YO]