Suatu hari, Dito bermain bola di dalam rumah. Padahal, Mama sudah berpesan, "Dito, jangan main bola di dalam rumah, ya." Karena merasa aman-aman saja, Dito tetap melanjutkan permainannya. Tiba-tiba… Prang! Vas bunga kesayangan Mama tersenggol dan pecah berhamburan. Dito sangat takut. Ia sadar kesalahannya tidak bisa membuat vas itu kembali utuh. Dengan jujur, ia mendatangi Mama dan berkata, "Ma, maafkan Dito. Dito tadi tidak taat." Mama memeluk Dito dan memaafkannya. Namun, Dito tetap harus menerima akibatnya: ia harus membantu membersihkan pecahan vas dan tidak boleh lagi bermain bola di dalam rumah. Dito belajar bahwa setiap ketidaktaatan pasti membawa akibat.
Pengalaman Dito mirip dengan kisah Adam dan Hawa dalam Kejadian 3:16–24. Karena melanggar perintah Tuhan, Adam dan Hawa harus menerima konsekuensi dari dosa mereka. Hidup mereka menjadi lebih berat dan mereka harus keluar dari Taman Eden. Namun, di tengah hukuman itu, kasih Tuhan tidak pernah berhenti! Sebelum meminta mereka meninggalkan taman, Tuhan yang penuh kepedulian membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk melindungi dan menutupi mereka. Ini membuktikan bahwa meskipun manusia berbuat salah, Tuhan tetap mengasihi, merawat, dan menyediakan apa yang mereka butuhkan. Kadang-kadang kita juga bisa melakukan kesalahan, seperti tidak jujur, membantah orang tua, atau bersikap pelit. Ketidaktaatan dan dosa memang selalu membawa akibat yang harus kita hadapi. Namun, ingatlah bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah. Saat kita mau jujur mengakui kesalahan dan bertobat, Tuhan selalu mengampuni, merawat, dan menyertai langkah hidup kita. Karena itu, mari kita belajar untuk makin taat kepada Tuhan dan orang tua setiap hari! [JH]