Beberapa waktu lalu, platform keuangan Intuit Credit Karma mempopulerkan istilah "money dysmorphia", yaitu kondisi ketika seseorang memiliki persepsi yang tidak sesuai terhadap keadaan keuangannya sendiri. Meski secara objektif dan matematis seseorang berada dalam kondisi keuangan yang stabil, ia tetap merasa kurang dan cemas berlebihan. Dalam survei mereka, sekitar 43% Gen Z dan 41% Millennials merasa kondisi keuangan mereka jauh lebih buruk daripada kenyataannya. Banyak di antara mereka sebenarnya memiliki pekerjaan tetap, tabungan, bahkan kondisi finansial yang cukup sehat. Namun, mereka tetap merasa miskin, kurang, dan tertinggal.
Jika kita renungkan, "money dysmorphia" sebenarnya menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persoalan finansial. Manusia cenderung selalu merasa kurang, dan mencari rasa aman pada uang serta harta benda. Kita berpikir, "Kalau tabungan saya mencapai angka tertentu, saya akan tenang." Namun ketika angka itu tercapai, kita mulai mengejar angka berikutnya. Di titik ini kita sadar, bahwa sekalipun kondisi finansial meningkat, nyatanya hati kita tetap tidak merasa aman. Ada kekhawatiran baru, ada target baru, dan alasan baru untuk merasa bahwa apa yang kita miliki masih kurang. Perhatikan kata Yesus, "walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Dengan satu kalimat ini, Yesus meruntuhkan anggapan bahwa semakin banyak harta, semakin terjamin hidup seseorang. Kekayaan memang memenuhi banyak keinginan, tetapi tidak pernah dapat menjamin hidup kita. Saat kita menjadikan uang sebagai tempat bergantung, kita akan terus hidup dalam kecemasan akan kekurangan, kehilangan, dan ketidakpastian. Karena itu Yesus memerintahkan kita untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan. Jika kerja keras, menabung, berinvestasi, dan merencanakan masa depan adalah kewajiban dalam memenuhi kebutuhan; ketamakan bukan sekadar keinginan memiliki lebih banyak, tetapi juga kecenderungan hati untuk mencari rasa aman di luar Allah. Ingat, ketamakan sama dengan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Kita mungkin tidak bersujud di depan patung emas, tapi hati kita telah bersujud pada sesuatu selain Tuhan. Karena itu, kita berjaga-jaga dan waspada terhadap ketamakan dengan secara rutin memeriksa apa yang menjadi sumber rasa aman kita. Jika kehilangan uang membuat kita merasa seluruh hidup kita runtuh, mungkin kita terlalu mencintai uang. Jangan terjebak "money dysmorphia", biasakan mengucap syukur kepada Tuhan untuk kesehatan, pekerjaan, makanan, tempat tinggal, dan latih kebiasaan memberi kepada sesama. [LS]