Retrospektif berarti melihat kembali hal-hal yang telah terjadi untuk memahami dan mengambil pelajaran darinya. Dalam kehidupan iman, kita mengingat masa lalu bukan untuk terjebak di dalamnya, melainkan untuk mengingat dan menyadari kesetiaan Tuhan. Itulah yang gagal dilakukan bangsa Israel. Setelah mengalami pertolongan Tuhan dan memasuki Tanah Perjanjian, mereka berpaling kepada allah lain dan tidak lagi setia kepada perjanjian-Nya. Padahal Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, memelihara mereka selama perjalanan di padang gurun, dan membawa mereka ke negeri yang dijanjikan-Nya. Karena itu, Malaikat TUHAN menegur mereka: "Mengapa kamu berbuat demikian?" (Hak. 2:2). Mereka melupakan perbuatan Tuhan, dan kelupaan itu tampak dalam ketidaksetiaan mereka.
Kita pun dapat mengalami hal serupa. Ketika kita melupakan apa yang telah Tuhan kerjakan, kita bisa terjebak menjalani hidup dengan pemikiran, sumber daya, dan kekuatan kita sendiri. Entah kita akan menjadi seperti Bangsa Israel yang mudah berpaling dari Allah, atau kita menjadi mudah goyah karena kehilangan perspektif tentang kesetiaan Tuhan. Karena itu, kita perlu terus mengingat karya-Nya, terutama karya salib Kristus yang menjadi dasar pengharapan kita. Ketika iman melemah dan kita merasa tidak sanggup menanggung beban hidup, pandanglah kepada Yesus yang tekun menanggung salib (Ibr. 12:2-3). Ketika kita merasa Tuhan tidak memperhatikan kita, ingatlah bahwa kasih-Nya telah dinyatakan melalui kematian Kristus bagi kita (Rm. 5:8). Luangkan waktu untuk retrospektif; melihat kembali perjalanan hidup kita dan mengingat bagaimana Tuhan telah memelihara serta menuntun kita sejauh ini. Di tengah apapun yang terjadi, kita selalu memiliki alasan untuk tetap percaya kepada Allah yang setia. [JW]