Pengetahuan Alkitab, jabatan, dan keaktifan dalam hal-hal rohani sering dijadikan tolok ukur kerohanian seseorang. Namun, firman Tuhan menyatakan bahwa inti yang paling mendasar adalah kasih, dan hukum yang terutama ialah mengasihi. Karenanya, jika mengasihi adalah perintah yang terutama, maka tidak mengasihi tentu merupakan pelanggaran yang besar. Saat hati kita menjadi dingin, cuek, mudah menghakimi, atau sulit mengampuni, sebenarnya kita sedang menjauh dari hati Allah. Ia sendiri adalah kasih. Kasih bukan sekadar sifat-Nya melainkan natur Allah sendiri. Melalui kasihlah hakikat kerohanian kita terlihat sekaligus dinyatakan.
Ayat firman hari ini menjelaskan kasih sebagai tanda bahwa kita benar-benar mengenal Allah. Orang yang telah mengenal kasih Allah tidak bisa hidup tanpa kasih yang mengalir keluar dari hidupnya. Tinggal di dalam kasih (men�), berarti tinggal secara terus-menerus, menetap, dan hidup di dalamnya. Jadi, kasih bagi orang percaya bukan sekadar perasaan sesaat, tetapi gaya hidup. Pada kenyataannya, seseorang bisa saja sangat rohani namun sangat dangkal dalam hal mengasihi. Ini disebabkan karena kasih tidak dilandasi dasar atau alasan yang benar. Jika alasan kita mengasihi hanya karena orang lain baik kepada kita, maka dipastikan kasih itu akan runtuh saat kita disakiti. Pun jika kita mengasihi karena keadaan menyenangkan, maka kasih itu akan memudar ketika keadaannya berubah. Alasan kita mengasihi harus lebih kuat daripada perasaan dan keadaan. Itu sebabnya, di ayat 19 dijelaskan bahwa alasan kita mengasihi adalah Allah sendiri. Kita mengasihi bukan karena manusia selalu layak dikasihi, tetapi karena Allahlah yang telah lebih dulu mengasihi kita. Kita mengasihi bukan karena mudah, tetapi karena kita telah menerima kasih yang begitu besar. Saat menyadari bahwa kita yang penuh kelemahan ini pun tetap dikasihi Allah, hati kita pun mulai belajar mengasihi. Kita mau belajar mengampuni ketika hati terluka, kita mau belajar bersabar saat orang lain mengecewakan, dan kita mau berusaha tetap berbuat baik sekali pun tak berbalas. Ingat, kita dimampukan mengasihi karena kita telah lebih dahulu dikasihi oleh Allah. [RS]