Tidak ada seorang pun yang luput dari masalah selama ia hidup di dunia. Kita mungkin berhasil menyelesaikan satu masalah, tetapi kemudian dihadapkan lagi pada masalah lain dalam bentuk yang berbeda. Ada kalanya masalah datang bertubi-tubi, keadaan terasa semakin berat, dan apa yang kita harapkan tak kunjung tiba. Pada saat-saat seperti inilah, kita harus memiliki sudut pandang yang benar dalam merespons pergumulan yang kita alami.
Alih-alih menganggap masalah sebagai kesialan yang harus dihindari, Paulus justru memberi tahu bahwa kesulitan dan penderitaan dapat menjadi sarana untuk membentuk ketekunan, tahan uji, serta pengharapan (Roma 5:3-4). Pergumulan bukan hanya sesuatu yang harus kita lalui, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Ketika menghadapi kesulitan, kita dipanggil untuk datang kepada Tuhan dalam doa dan bergantung kepada-Nya. Bukan semata-mata agar permasalahan segera selesai, melainkan agar melalui setiap pergumulan, kita semakin mengenal Dia, teguh dalam pengharapan, serta serupa dengan karakter Yesus. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk tidak hanya berfokus pada jalan keluar atau mengharapkan berkat instan Tuhan. Luangkan waktu untuk datang kepada Tuhan, mengevaluasi diri, dan mencari tuntunan-Nya melalui firman-Nya. Bukan berarti kita tidak boleh mencari bantuan, melainkan agar kita tidak mengabaikan Tuhan dalam proses menghadapi masalah dan tetap taat kepada-Nya di tengah pergumulan. Sekalipun keadaan belum berubah, kita dapat terus melangkah dengan respons yang benar, dalam ketaatan pada Firman-Nya, dalam iman yang semakin bertumbuh, serta dalam hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan. Percayalah, di tengah pergumulan apapun, Roh Kudus akan memberikan tuntunan—baik melalui hikmat, kehadiran orang-orang di sekitar kita, maupun kekuatan untuk bertahan ketika keadaan belum berubah. [SR]