Kita bisa mem-follow seseorang di media sosial karena kita mengaguminya, menyukai perkataannya, atau terinspirasi dengan hidupnya. Tetapi mem-follow seseorang tidak berarti kita sungguh-sungguh mengikuti hidupnya. Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan kita dengan Yesus. Kita senang dengar khotbah, tersentuh saat menyembah, hafal banyak ayat, dan mengikuti CORE. Semua itu baik, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kita adalah murid Yesus. Sebab mengikut Yesus bukan sekadar mendekat kepada-Nya atau mengagumi-Nya. Mengikut Yesus berarti memilih untuk berjalan di jalan-Nya, belajar dari-Nya, meneladani hidup-Nya, dan pada akhirnya menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Jadi, yang membedakan seorang murid bukan hanya seberapa dekat ia dengan Yesus, tetapi apakah kedekatan itu mengubah cara ia hidup dan kepada siapa ia menyerahkan hidupnya.
Lihat kehidupan Yudas. Selama kurang lebih tiga tahun, ia berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, bahkan dipercaya memegang kas dan terlibat pelayanan. Secara lahiriah, Yudas sangat dekat dengan Yesus. Namun kedekatan itu tidak menghasilkan kesetiaan kepada-Nya. Ketika Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak yang mahal, Yudas protes dan mempertanyakan mengapa minyak itu tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Perkataannya terdengar rohani, tetapi Yohanes 12:6 menyingkapkan bahwa ia sebenarnya seorang pencuri yang biasa mengambil uang dari kas yang dipegangnya. Puncaknya, Matius 26:14-16 mencatat pengkhianatan Yudas. Di situlah hati Yudas terlihat, ia mengikuti Yesus secara lahiriah, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menyerahkan dirinya kepada Yesus. Bahkan ketika mengkhianati-Nya, ia masih memanggil Yesus "Rabi" dan mencium-Nya sebagai tanda kedekatan. Yudas menunjukkan kepada kita bahwa berjalan dekat dengan Yesus tidak sama dengan mengikuti Yesus; mengetahui tentang Yesus tidak sama dengan meneladani Yesus; dan terlibat dalam pekerjaan Yesus tidak sama dengan menyerahkan hidup kepada Yesus. Ingat, kita bukan "fan" yang sekadar kagum, suka, atau merasa terinspirasi dengan Yesus; kita dipanggil untuk menjadi murid-Nya. Karena itu, jangan sampai kita merasa sudah menjadi murid hanya karena kita dekat dengan aktivitas rohani. Yang terpenting bukan seberapa dekat kita dengan gereja, tetapi seberapa jauh hidup kita benar-benar mengikuti Yesus. Ingat, menjadi murid berarti bukan hanya mengagumi Yesus, tetapi membiarkan hidup kita dibentuk oleh-Nya; bukan hanya mendengar perkataan-Nya, tetapi melakukan kehendak-Nya; bukan hanya menerima apa yang Ia berikan, tetapi menyerahkan apa yang kita miliki—hati, pikiran, kehendak, waktu, dan seluruh hidup kita kepada-Nya. Jadi, apakah kita hanya dekat karena kagum dengan Yesus, atau kita telah sungguh-sungguh berjalan mengikut-Nya? [RS]