Kita bisa menunjukkan spiritualitas yang sangat hidup secara lahiriah dengan rutin datang ke gereja, menyanyikan pujian, mendengar khotbah, dan terlibat acara-acara gereja. Namun, semua itu belum tentu berarti kita sedang bertumbuh sebagai murid Kristus. Itu sebabnya, kita perlu membongkar spiritualitas yang hanya merasa puas dengan kehadiran di gereja, namun tidak mengalami transformasi dalam keseharian. Kehadiran di gereja sangat penting, tetapi menjadi murid lebih dari sekadar hadir di gereja. Menjadi murid berbicara tentang seberapa jauh hidup kita mengalami transformasi yang semakin menyerupai Kristus, seberapa jauh firman Tuhan mengubah cara kita hidup setelah ibadah selesai. Yesus pernah berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Mat. 7:21). Perkataan ini keras karena Yesus sedang menunjukkan bahwa pengakuan rohani tidak sama dengan ketaatan rohani. Bayangkan saja, seorang yang menyebut nama Tuhan tetapi tetap hidup menurut kehendaknya sendiri. Ini seperti kita menyembah dengan mulut, tetapi sikap kita memberontak terhadap perkataan Tuhan. Kita mengangkat tangan dalam ibadah, tetapi menggenggam kepahitan di dalam hati. Kita berbicara kasih, tetapi terus memelihara kebencian. Kita mendengar tentang kekudusan, tetapi masih memberi ruang bagi dosa yang kita sembunyikan.
Pertumbuhan rohani terjadi hanya jika kita mau hidup seperti Kristus. Sebab tujuan akhir dari kekristenan adalah menjadi murid yang hidupnya diubahkan semakin serupa dengan Kristus. Murid Kristus bukan hanya yang tahu perkataan Gurunya, tetapi juga rela taat bahkan ketika perkataan Gurunya bertentangan dengan keinginannya. Karenanya, jangan hanya hadir di gereja namun tidak mengizinkan Tuhan hadir di setiap bagian kehidupan kita. Sudah seberapa jauh hidup kita berubah setelah datang ke gereja? Jika setelah bertahun-tahun mendengar firman, kita masih mudah marah, sulit mengampuni, mencintai dosa, dan mempertahankan ego, mungkin masalahnya bukan karena kurangnya firman yang kita dengar, tetapi kurangnya firman yang kita lakukan. Datanglah ke rumah Tuhan bukan hanya untuk terlihat seperti murid, tetapi sungguh-sungguh hidup sebagai murid. [RS]