Kita hidup dalam budaya dunia yang membentuk kita menjadi konsumtif. Alhasil kita terbiasa dengan pemikiran "apa yang saya terima", "apa yang saya sukai", "apa yang memenuhi kebutuhan saya", "apa yang membuat saya nyaman", dan sayangnya pola pikir ini juga masuk ke dalam kehidupan bergereja. Kita datang untuk menerima khotbah, mencari jawaban, menikmati musik, mendapatkan pertolongan, mengalami hadirat Tuhan, lalu pulang tanpa pernah bertanya apa yang Tuhan kehendaki dari hidup kita. Perhatikan bahwa tidak ada yang salah dengan menerima, tetapi ketika hubungan kita dengan Tuhan hanya diukur dari apa yang kita terima, rasakan, dan alami di gereja, iman kita perlahan berubah menjadi pengalaman konsumsi rohani. Artinya, kita menikmati hal-hal rohani, tetapi tidak membiarkannya mengubah cara kita hidup dan mengikuti Kristus. Padahal, Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi penonton yang hanya menerima dan menikmati pekerjaan-Nya. Ia memanggil kita menjadi murid yang menyerahkan hidup untuk mengikuti dan meneladani-Nya.
Ketika Yesus berkata kepada Simon dan Andreas, "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Mark. 1:17), panggilan itu mengandung tiga prinsip, yaitu "follow" (ikuti), "become" (menjadi), dan "go" (pergi). Frasa "Ikutlah Aku" berarti pusat hidup mereka berpindah dari diri sendiri kepada Kristus. Frasa "Kamu akan Kujadikan" menunjukkan bahwa pemuridan adalah proses pembentukan; Yesus tidak sekadar ingin memberi mereka sesuatu, tetapi mengubah siapa mereka. Kemudian frasa "penjala manusia" menunjukkan bahwa pertumbuhan mereka memiliki tujuan di luar diri mereka sendiri. Mereka yang telah menerima panggilan akhirnya diutus untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Kerajaan Allah. Inilah perbedaan mendasar antara konsumen dan murid. Konsumen bertanya, "Apa yang saya dapatkan dari Tuhan?" Murid bertanya, "Apa yang Tuhan ingin bentuk dalam diri saya, dan bagaimana hidup saya dapat dipakai untuk kemuliaan-Nya dan bagi sesama?" Mengikut Kristus berarti bergerak dari "receiving" kepada "growing", dari "growing" kepada "stewarding", dan dari "being discipled" kepada "making disciples". Karena itu, sepanjang bulan Oktober ini, mari kita kembali menghayati visi gereja yang fokus pada pemuridan. Jangan hanya mengevaluasi seberapa banyak yang sudah Anda terima, tetapi evaluasi, "Apakah semua yang saya terima sedang menghasilkan perubahan dalam hidup saya?" Jika Tuhan memberi firman, hiduplah di dalamnya. Jika Tuhan memberi karunia, gunakan untuk melayani. Jika Tuhan menempatkan seseorang dalam hidup Anda, investasikan diri untuk membawanya semakin dekat kepada Kristus. Dan jika Anda tengah bertumbuh di dalam proses pemuridan, jangan berhenti pada diri sendiri, tetapi jadilah orang yang memuridkan—menjadi facilitator, menjadi main team, dan sebagainya. Ingat, gereja tidak dipanggil untuk memenuhi kebutuhan konsumen rohani, tetapi untuk membentuk murid yang semakin serupa Kristus dan siap dipakai bagi Kerajaan-Nya. [LS]