Dalam Perjanjian Baru, ada dua kata Yunani yang sering digunakan untuk menjelaskan waktu, yaitu "chronos" dan "kairos". Chronos menekankan rentang waktu yang berjalan secara kronologis—hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Itulah waktu yang kita rasakan ketika kita bekerja, belajar, bertumbuh, menunggu, dan menjalani hari yang terasa biasa-biasa saja. Sementara kairos menunjuk pada waktu atau kesempatan yang tepat dan signifikan dalam suatu peristiwa. Baik chronos maupun kairos, keduanya sama-sama berada dalam kedaulatan Tuhan. Namun pembedaan ini menolong kita memahami bahwa di sepanjang perjalanan waktu yang kita jalani hari demi hari, ada momen-momen yang Tuhan tetapkan ketika sesuatu yang kita nantikan akhirnya terjadi.
Untuk lebih memahaminya, mari kita lihat Galatia 4:4, "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya…" Frasa "setelah genap waktunya" dalam teks aslinya menggunakan kata "pleroma tou chronou", yang berarti "kepenuhan waktu". Paulus menggunakan kata "chronos" untuk menunjukkan adanya proses sejarah linier yang nyata. Waktu penantian yang panjang itu diisi penuh oleh rencana keselamatan Allah. Melalui hukum Taurat, Allah menyatakan standar kekudusan-Nya, menyatakan dosa manusia, dan menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk memperoleh pembenaran melalui usahanya sendiri. Dalam sejarah dunia, Allah juga secara providensial bekerja melalui berbagai keadaan yang turut mendukung penyebaran Injil, seperti Perdamaian Romawi (Pax Romana) dan jaringan jalan yang menghubungkan berbagai wilayah. Ketika waktu penantian (chronos) mencapai kepenuhannya (pleroma), maka tibalah momen yang paling tepat, strategis, dan menentukan, di mana Allah akhirnya masuk ke dalam sejarah manusia dengan mengutus Anak-Nya ke dunia. Jadi, kedatangan Kristus bukanlah peristiwa yang terjadi kebetulan, melainkan puncak dari rencana keselamatan Allah yang telah berlangsung sepanjang sejarah. Jika kedatangan Kristus ke dunia terjadi pada waktu yang ditentukan Allah, maka kita pun perlu belajar menghormati dan mempercayai waktu Tuhan, sekalipun kita belum mengerti mengapa hari ini kita masih ada di "ruang tunggu". Waktu ada di dalam tangan Tuhan. Ada musim ketika hidup terasa naik dengan cepat. Ada musim ketika semuanya terasa berjalan di tempat. Ada musim ketika doa segera dijawab. Ada musim ketika kita masih harus menunggu. Hati-hati, jangan menganggap chronos sia-sia hanya karena kita belum melihat hasil. Jangan hanya bertanya kapan kairos datang, yang lebih penting adalah memikirkan apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam chronos kita saat ini. Kairos tidak membuat chronos menjadi tidak penting. Justru chronos bisa menjadi waktu persiapan. Ada orang yang sedang menunggu promosi. Ada yang sedang menanti pasangan. Ada yang sedang menunggu pemulihan keluarga. Ada yang sedang menunggu Tuhan membuka pintu, dan selama Anda menunggu, hidup harus tetap dijalani. Di sinilah kita diuji. Karena itu, jalani waktumu dengan sabar dan setia. Jangan biarkan penantian membuat kita berhenti bertumbuh. Jika belum waktunya menerima, tetaplah belajar. Jika belum waktunya menuai, tetaplah menabur. Jika pintu belum terbuka, tetaplah mengerjakan apa yang Tuhan percayakan di tangan kita. Kita tidak perlu tahu kapan kairos kita tiba. Tugas kita adalah setia pada chronos yang Tuhan berikan hari ini. [LS]