Bayangkan Anda membuat janji temu dengan seorang pejabat atau pimpinan perusahaan untuk membahas satu hal yang sangat penting dan sudah Anda persiapkan dengan serius. Tiba-tiba saja, orang tersebut mengabari bahwa dirinya terjebak macet. Anda tidak tahu persis kapan ia datang, Anda hanya diberi tahu estimasi waktunya. Menunggu dalam situasi seperti ini menuntut kita untuk tetap siap. Kita tidak tahu persis waktunya, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita mengisi waktu tunggu yang ada. Masalahnya, semakin lama menunggu, semakin mudah kita lengah. Perhatian mulai teralihkan, dan tanpa sadar kita mulai bersikap sembarangan.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan rohani kita. Dalam Markus 13:33-37, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga karena tidak seorang pun tahu kapan waktunya tiba. Ia menggambarkan diri-Nya seperti seorang tuan yang pergi dan mempercayakan rumahnya kepada para hamba, masing-masing dengan tugasnya. Selama sang tuan belum kembali, mereka tidak boleh menunggu dengan pasif atau sembarangan, melainkan tetap menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada mereka. Pesan ini juga berlaku bagi kita. Menantikan kedatangan Kristus bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan panggilan untuk tetap setia menjalani apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Kita tidak perlu mengetahui kapan Kristus datang untuk hidup dengan setia; kita hanya perlu hidup seolah-olah Dia dapat datang kapan saja. Sebab peringatan Yesus sangat jelas: "Jangan-jangan ia datang tiba-tiba dan kamu didapatinya sedang tidur." Karena itu, stop bertanya, "Kapan Tuhan datang?", tetapi renungkan, "Jika Tuhan datang hari ini, dalam keadaan seperti apa Ia akan mendapati hidup kita?" Apakah Ia mendapati kita sedang setia mengerjakan apa yang dipercayakan-Nya, atau justru terlena oleh kenyamanan, kesibukan, dan perkara-perkara dunia sampai kita tidak lagi peka terhadap kedatangan-Nya? Berjaga-jaga berarti menjalani setiap hari dengan kesiapan dan kesetiaan, bukan karena kita tahu kapan Kristus datang, tetapi karena kita tahu bahwa Ia pasti datang. Dan ketika Ia datang, kiranya Ia tidak mendapati kita sedang tidur, melainkan sedang setia menjalankan apa yang telah dipercayakan-Nya. [JW, LS]