Film "War Room" mengisahkan tentang pemulihan sebuah keluarga yang dimenangkan melalui doa. "War Room" atau ruang perang dalam film ini adalah sebuah lemari pakaian yang digunakan seorang wanita untuk berkomunikasi secara mendalam dengan Tuhan. "War room" bukanlah ruang fisik yang mewah, tetapi tempat untuk memenangkan peperangannya dalam kehidupan. Di dalam lemari inilah nyata iman seorang wanita melalui doa-doa yang ia panjatkan di dalamnya.
Apakah kita juga memiliki "War Room"? Adakah tempat untuk kita berkomunikasi secara mendalam dengan Tuhan? Yesus berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi." Ini adalah ajakan bagi kita untuk masuk ke dalam ruang hati yang paling pribadi, di mana hanya ada kita dan Tuhan saja. Di sini Yesus mengajar kita bahwa doa adalah tentang sebuah hubungan. Maka saat kita "menutup pintu", kita memisahkan diri dari berbagai gangguan, suara, dan keinginan untuk dilihat orang lain. Di tempat tersembunyi inilah kita datang apa adanya dengan seluruh beban, syukur, tangis, dan harapan. Seperti kata Daniel, "Tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak." (Dan. 11:32b). Dalam pintu yang tertutup inilah kita berseru, "Ya Abba, ya Bapa!", sebuah sapaan penuh kasih dan kepercayaan seperti anak kecil kepada ayahnya. Dalam keadaan takut, dalam kondisi terlemah, kita berseru kepada Bapa yang menerima dan memeluk kita. Dalam pintu yang tertutup, doa lebih dari sekadar pengajuan permohonan, rutinitas, atau kewajiban rohani, tetapi sebuah komunikasi yang menghubungkan hati kita dan hati Tuhan. Pada akhirnya, di dalam ruangan inilah keintiman kita dengan Tuhan akan melahirkan hal-hal ilahi, yang tampak melalui jawaban doa dan mukjizat-mukjizat yang Tuhan nyatakan bagi kita. Karenanya, masuklah dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu! [RS]