Pernahkah Anda memperhatikan kulit tangan seseorang yang sering latihan angkat beban? Bagian tertentu pada telapak tangannya biasanya menjadi lebih tebal dan keras. Gesekan dan tekanan yang terjadi berulang-ulang membuat kulit membentuk callus atau kapalan. Yang menarik, gesekan yang pada awalnya terasa sakit, perlahan menjadi tidak terlalu terasa. Itu karena kulit telah menebal dan kehilangan sensitivitas.
Hal serupa juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Hati kita dapat menjadi "kapalan", saat kita terus-menerus mengabaikan peringatan dari Tuhan. Tuhan memberikan peringatan melalui firman-Nya, teguran saudara seiman, nasihat pemimpin, atau melalui keadaan yang membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang salah. Jika kita terus mengabaikan suara-Nya, maka apa yang dahulu membuat kita gelisah, kini bisa jadi terasa biasa. Apa yang dahulu kita anggap serius, bisa jadi kita anggap sepele. Tanpa disadari, hati kita sedang kehilangan kepekaannya terhadap dosa. Itulah sebabnya penulis surat Ibrani memberikan peringatan yang sangat serius dalam Ibrani 3:12-14. Ia berkata, "Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup." Kemudian ia melanjutkan, "Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari... supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." Kata "tegar" atau "mengeras" di sini menggambarkan hati yang menjadi tidak responsif terhadap Tuhan, dan perhatikan bahwa pengerasan hati tidak terjadi dengan sendirinya; ada tipu daya dosa yang bekerja di baliknya. Dosa menipu dengan cara menyesatkan penilaian kita tentang apa yang benar, baik, dan menyukakan Tuhan. Kita mulai mencari alasan untuk membenarkan yang salah, menganggap enteng apa yang serius, dan menunda pertobatan dengan berpikir kita masih memiliki banyak waktu. Karena itu, penulis Ibrani memberi kita "wake up call" untuk memeriksa kondisi hati kita. Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, bukan seminggu sekali. Kita membutuhkan saudara seiman yang berani menegur, mengingatkan, dan menarik kita dari jalan yang salah. Mungkin hari ini ada sesuatu yang sedang Tuhan ingatkan dan tegur dalam hidup kita. Jangan buru-buru membela diri. Diam dulu sejenak, renungkan kondisi hati Anda, dan tanyakan dengan jujur, "apakah Tuhan disenangkan dengan ini". Akui jika kita salah. Tinggalkan dosa yang selama ini kita toleransi. Terima teguran yang selama ini kita hindari. Bila perlu, mintalah saudara seiman yang dapat menolong dan mengingatkan kita untuk tetap berjalan dalam kebenaran. [LS]