Saat mendengar nama Korah, kita akan teringat dengan pemberontakannya yang menentang otoritas Tuhan melalui Musa dan Harun. Sebagai akibatnya, tanah terbelah, menelan Korah, Datan, Abiram, keluarga mereka, serta segala kepunyaan mereka (Bil. 16:31-33). Namun, kisah ini tak berhenti pada penghukuman yang berakhir begitu saja, tetapi juga menyingkap kuasa anugerah Tuhan yang mengubah sebuah generasi. Korah sendiri memimpin pemberontakan dan dihukum oleh Tuhan. Akan tetapi, anak-anak Korah tidak ikut binasa (Bil. 26:11). Keturunan mereka kemudian menjadi kelompok penting dalam pelayanan ibadah Israel. Pada masa Daud, sebagian dari mereka menjadi penyanyi, pemusik, dan penjaga pintu di Bait Suci. Mazmur-mazmur mereka kita kenal dengan judul "Mazmur bani Korah" (Misalnya Mazmur 42, 44-49, 84).
Kisah Korah dan keturunannya ini memberi pelajaran berharga bagi kita bagaimana masa lalu, pun keadaan keluarga yang buruk, tidak menjadi penghalang bagi masa depan yang baik. Anak-anak Korah tidak harus mengulangi kesalahan ayah mereka. Mereka dapat memiliki kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda. Demikian pula dengan kita. Mungkin ada warisan buruk yang kita terima, misalnya kemarahan turun-temurun, pola hidup yang tidak sehat, kepahitan, ketidaksetiaan, dan berbagai luka yang diwariskan dari keluarga kita sebelumnya. Tuhan tidak menghendaki kita hidup di bawah bayang-bayang masa lalu yang buruk. Sebaliknya, Tuhan mau kita berjalan dalam identitas baru dengan masa depan yang baik, penuh dengan harapan dari Tuhan. Apa yang rusak di generasi sebelumnya tak harus berlanjut di generasi kita. Semua itu mungkin dapat mempengaruhi kita, tetapi tidak harus mengendalikan kita. Di dalam Tuhan, selalu ada kesempatan untuk memutus kebiasaan yang salah dan membangun pola hidup yang baru. Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk tetap tinggal dalam kesalahan yang sama. Percayalah, anugerah Tuhan sanggup menulis kisah yang baru dan indah melalui hidup kita, seperti yang Ia lakukan atas keturunan Korah. [RS]