Ada banyak orang percaya yang tahu kebenaran, namun masih hidup dalam ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, dan keterikatan. Ini terjadi karena ada perbedaan besar antara mengetahui dan mengenal kebenaran. Kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, Yesus pernah berkata demikian, "Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh. 8:32). Kata "mengetahui" di sini dalam bahasa aslinya disebut "ginosko", yang tidak sekadar berbicara mengenai pengetahuan intelektual, tetapi tentang pengenalan yang mendalam, relasional, dan pribadi. Ginosko digunakan untuk menggambarkan hubungan yang intim, layaknya seorang murid yang mengenal gurunya tidak hanya melalui buku, tetapi melalui kedekatan, pengalaman, dan transformasi pribadi.
Karena itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa hanya kebenaran yang kita kenal secara pribadi dan kita alami dalam hiduplah, yang benar-benar memerdekakan. Firman Tuhan bukan sekadar bacaan rohani, tetapi sumber kebenaran yang hidup, yang dapat melepaskan kita dari berbagai-bagai keterikatan. Ketika kita menghidupi firman Tuhan tersebut, kita dibebaskan dari belenggu dosa, dari pola pikir yang mengikat kita dalam ketakutan, kecemasan, dan juga identitas palsu yang diberikan oleh dunia ini. Firman Tuhan akan mengungkap siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan dan apa rencana-Nya yang mulia dalam hidup kita. Karenanya, mari kita bersungguh-sungguh membuka hati terhadap firman-Nya, berusaha memahami dan menggalinya, dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita, maka kita akan mengalami hidup yang merdeka. Untuk mengenal seseorang, kita perlu waktu. Begitu pula mengenal kebenaran bukanlah hasil belajar semalam. Ini adalah proses perjalanan kita bersama Kristus setiap harinya. Jangan kita berpuas diri menjadi orang Kristen yang hanya tahu firman Tuhan, tetapi jadilah orang percaya yang mempraktikkannya dalam keseharian kita. Maka kita dapat berkata, "Aku telah dimerdekakan!" [RS]