Dalam sebuah fabel filsafat yang dikenal sebagai "hedgehogâs dilemma", filsuf Jerman Arthur Schopenhauer menggambarkan sekelompok landak yang berusaha mendekat satu sama lain pada musim dingin agar dapat memperoleh kehangatan. Namun, ketika mereka semakin dekat, duri-duri mereka justru saling menusuk dan menimbulkan rasa sakit. Ketika mereka menjauh, mereka kembali menghadapi dinginnya udara. Akhirnya, mereka mencari jarak yang cukup dekat untuk mendapatkan kehangatan.
Dalam kaitannya dengan kehidupan kita, ada kalanya kedekatan justru memicu sakit hati dan meninggalkan luka. Karena itu, ketika hubungan mulai terasa sulit, kita mudah berpikir bahwa menjauh atau memutus hubungan adalah jalan terbaik. Namun, kita perlu menyadari bahwa selama kita hidup bersama orang lain, kita tidak akan pernah sepenuhnya terhindar dari gesekan. Perbedaan karakter, kelemahan, kritik, kesalahpahaman, maupun perkataan dan tindakan yang tidak disengaja dapat melukai. Kita membangun hubungan bukan dengan pribadi-pribadi yang sempurna, melainkan dengan sesama yang sama-sama sedang dibentuk Tuhan. Itu sebabnya Paulus memberikan nasihat yang sangat relevan dalam Roma 15:1-7. Ia tidak mengajar kita untuk mencari hubungan yang bebas dari masalah, tetapi agar kita belajar menanggung kelemahan orang lain dan tidak mencari kesenangan diri sendiri. Bahkan ia berkata, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah" (Rm. 15:7). Menerima bukan berarti membenarkan segala sesuatu atau membiarkan diri terus-menerus disakiti. Menerima berarti memilih untuk tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai alasan untuk berhenti mengasihi. Sebab, kita sendiri diterima Kristus bukan karena kita sudah sempurna, melainkan karena kasih karunia-Nya. Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap setiap gesekan sebagai tanda bahwa sebuah hubungan harus diakhiri. Bisa jadi, justru melalui gesekan itulah Tuhan sedang membentuk kedewasaan kita, mengajar kita merendahkan ego, belajar mengampuni, berkata benar dengan kasih, menerima kelemahan, dan bertumbuh bersama. Amsal 27:17 berkata, "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Relasi yang sehat bukanlah relasi yang tidak pernah ada gesekan, melainkan relasi yang melalui gesekan justru membuat kedua pihak semakin tajam dan dewasa. Jika hari ini ada gesekan dalam hubungan, ingatlah bahwa tidak mungkin ada kedekatan tanpa gesekan, dan gesekan tidak harus berakhir dengan perpisahan. Di tangan Tuhan, gesekan dapat menjadi proses yang mendewasakan kita. [RS, LS]