Apakah Anda merasa hidup semakin berat? Beban datang silih berganti, dan rasanya hampir setiap orang yang kita temui sedang memikul pergumulannya sendiri. Ada yang berjuang menghadapi masalah ekonomi, ada yang bergumul dengan kesehatan, ada yang sedang menghadapi tekanan di tempat kerja, dan ada pula yang sudah begitu lama bergulat dengan berbagai persoalan sekaligus. Di rumah, pekerjaan, pertemanan, bahkan pelayanan, selalu ada hal yang menguras tenaga, pikiran, dan hati. Kita semua sedang berusaha bertahan menjalani hidup, bertahan menjaga kewarasan, sambil terus menjaga sukacita.
Di tengah dunia yang penuh tekanan, orang percaya tidak menunggu semua masalah selesai untuk dapat bersukacita. Paulus menulis, "Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal" (1 Tes. 5:16-18). Paulus mengajar kita untuk bersukacita bukan hanya saat hidup mudah, tetapi juga di tengah hari-hari yang biasa, bahkan sulit. Secangkir kopi yang bisa kita nikmati dengan tenang, tubuh yang sehat untuk beraktivitas, pekerjaan yang masih Tuhan percayakan, percakapan dengan orang yang kita kasihi, dan hal-hal lain yang sering kita anggap biasa, sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang layak disyukuri. Sering kali kita kehilangan sukacita bukan karena Tuhan berhenti memberi, tetapi karena kita berhenti memperhatikan. Kita terlalu sibuk menunggu "big joy" sampai lupa memperhatikan "small joy" yang Tuhan hadirkan sepanjang hari. Bersyukur bukan artinya menyangkal masalah atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Bersyukur berarti belajar melihat bahwa di tengah pergumulan sekali pun, selalu ada kebaikan Tuhan yang dapat kita kenali. Karena itu, jangan tunggu hidup menjadi sempurna untuk bersukacita. Perhatikan sukacita kecil yang Tuhan anugerahkan hari ini. Mungkin masalah Anda belum selesai, tetapi hari ini tetap memiliki alasan untuk disyukuri. Ketika kita belajar melihat satu per satu kebaikan Tuhan, kita akan menyadari bahwa Tuhan tetap hadir dan memelihara kita di tengah semua persoalan yang terjadi. [EV]