RENUNGAN INSPIRASI
Saat dirugikan, kita cenderung membela diri, dan bila memungkinkan, kita akan membalas. Pada kenyataannya, ada masa-masa Tuhan mengizinkan kita menghadapi konflik, kerugian, dan juga ketidakadilan, supaya kita belajar bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita atau bagaimana orang memperlakukan kita, melainkan oleh kasih Kristus yang sungguh-sungguh kita hidupi. Dengan demikian, ukuran kemenangan orang percaya bukan terletak pada keberhasilan dalam mempertahankan hak, namun pada kesediaan untuk tetap mengasihi bahkan saat sedang dirugikan. Inilah prinsip yang Rasul Paulus tegaskan kepada jemaat Korintus. Lebih dari sekadar melarang mereka mencari pembenaran, Paulus bahkan menyatakan jika ada perkara atau perselisihan di antara orang percaya, itu sudah merupakan suatu kekalahan. Lebih jauh lagi, Paulus juga menanyakan hal yang bertentangan dengan standar dunia ini, "Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?" Hal ini bukan berarti Tuhan menyukai ketidakadilan atau membenarkan kejahatan. Tetapi menunjukkan adanya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar memenangkan konflik, yakni menjaga kasih dan karakter kita tetap serupa dengan Kristus.
Setiap tindakan dalam menghadapi konflik tidak seharusnya didorong oleh keinginan untuk memenangkan ego. Melainkan dimotivasi oleh kerinduan untuk tetap memancarkan kasih dan karakter Kristus. Jangan karena ingin menang, kita justru kalah dalam karakter. Sadarilah, kerugian terbesar bukanlah kehilangan uang, kesempatan, atau hak kita, melainkan kehilangan karakter Kristus dalam diri kita. Jadi, dalam setiap konflik, marilah kita berpikir, "Apakah respons saya memuliakan Kristus?", "Apakah saya memperjuangkan keadilan demi memuliakan Tuhan atau memuaskan ego yang terluka?", "Apakah saya mencari solusi dengan kasih atau ingin melihat orang lain menerima pembalasan?" Mungkin ada perlakuan yang tak adil, ada luka yang belum sembuh, ada nama baik yang ingin kita bela. Hari ini kita harus terlebih dahulu memenangkan peperangan yang terpenting dalam hati. Saat kita memilih merendahkan hati, mengampuni, hidup benar, dan mempercayakan keadilan pada Tuhan, di situlah kemenangan sejati sedang terjadi. [RS]