Ketika bangun di pagi hari, pikiran kita langsung tertuju pada berbagai pilihan. Mulai dari hal otomatis seperti bangun atau menunda alarm, berdoa atau segera mengecek ponsel, hingga keputusan tentang pekerjaan, relasi, dan tanggung jawab. Disadari atau tidak, hidup kita dipenuhi oleh banyak keputusan setiap hari. Di titik tertentu, seseorang bisa mengalami kelelahan mental karena harus terus menerus mengambil keputusan. Inilah yang disebut "decision fatigue". Dalam kondisi ini, yang melemah bukan hanya kemampuan berpikir, tetapi juga ketajaman hikmat. Akibatnya, kita mengambil keputusan tanpa kesadaran penuh, tergesa-gesa, atau sekadar mencari jalan yang paling mudah, bukan yang paling benar.
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa akar persoalannya bukan sekadar banyaknya keputusan, melainkan kecenderungan kita untuk mengandalkan pengertian sendiri. Ketika kita merasa harus memahami semuanya, mengendalikan semuanya, dan memastikan setiap keputusan benar dengan kekuatan sendiri, beban itu akan menguras hati dan pikiran. Tuhan tidak pernah meminta kita memikul beban itu sendirian. Ia mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap langkah. Percaya kepada Tuhan bukan berarti kita berhenti atau berlambat-lambat mengambil keputusan, tetapi berhenti menganggap segala sesuatunya bergantung pada kemampuan kita. Ketika kita terbiasa membiarkan firman Tuhan memenuhi dan membentuk cara kita berpikir, Tuhan memberi hikmat untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya. Hikmat inilah yang memampukan kita memilih jalan yang benar, bahkan ketika pilihan itu mendesak dan tidak selalu mudah untuk diputuskan. Karena itu, sebelum memulai hari dan mengambil banyak keputusan hari ini, biasakanlah untuk berdoa dan mencari tuntunan Firman Tuhan lebih dulu. Semakin kita belajar bersandar kepada-Nya, semakin hati kita dipenuhi damai dan hikmat untuk memutuskan segala hal yang selaras dengan kehendak Tuhan. [MLS]