Saat berbicara tentang kasih, berkat, dan penyertaan Tuhan, kita biasanya hanya mengingat doa yang dijawab, pintu yang terbuka, atau mukjizat yang terjadi. Padahal, Alkitab juga memperlihatkan sisi lain dari berkat Tuhan. Ia menyertai kita melalui batasan dan larangan. Ada kalanya kasih Tuhan tidak dinyatakan dengan memberikan apa yang kita minta, tetapi dengan menahan apa yang kita inginkan. Namun, justru bagian inilah yang paling sulit kita terima. Kita menanggapi setiap penolakan dengan kekecewaan, kita melihat setiap pintu tertutup sebagai kemunduran, kita menilai setiap batasan sebagai hambatan. Padahal, bagaimana jika batasan itu adalah salah satu bentuk penyertaan Tuhan bagi kita?
Kebenaran ini terlihat jelas dalam perjalanan pelayanan Paulus. Ketika hendak memberitakan Injil ke Asia, "Roh Kudus mencegah mereka" (Kis. 16:6). Lalu ketika mereka mencoba masuk ke Bitinia, "Roh Yesus tidak mengizinkan mereka" (ay. 7). Tuhan tidak menjelaskan alasan-Nya. Baru setelah beberapa waktu Paulus menerima penglihatan tentang seorang Makedonia yang memohon pertolongan, dan ia menyadari bahwa Tuhan sedang mengarahkan mereka ke tempat yang berbeda (ay. 9-10). Batasan yang semula tampak menghambat pelayanan, justru merupakan cara Tuhan bagi tersebarnya Injil ke wilayah Eropa. Bukan hanya dalam pelayanan, Tuhan juga membentuk kehidupan Paulus sendiri melalui pembatasan. Tiga kali ia memohon agar "duri dalam daging" disingkirkan, tetapi Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor. 12:9). Tuhan mengizinkan keterbatasan itu karena Ia tidak mau Paulus meninggikan diri oleh karena penyataan-penyataan luar biasa yang telah diterimanya (2 Kor. 12:7). Apa yang tampak sebagai kekurangan ternyata menjadi alat yang Tuhan pakai untuk menjaga karakter seorang rasul. Sering kali, kita kecewa karena sebuah kesempatan tidak jadi terwujud, sementara Tuhan melihat jalan yang tidak seharusnya kita tempuh. Kita kecewa karena doa belum dijawab, sementara Tuhan sedang membentuk ketekunan melalui proses penantian yang menguji iman. Kita harus paham bahwa pembatasan sering kali menjadi cara Tuhan mengarahkan, melindungi, dan mempersiapkan sesuatu yang lain. Semua itu merupakan bentuk kasih dan penyertaan Tuhan. Ingat, iman bukan hanya percaya ketika Tuhan memberi apa yang kita harapkan, tetapi juga mempercayai hikmat-Nya di balik batasan-batasan yang belum kita mengerti. Suatu hari nanti, saat kita menoleh ke belakang, kita akan menyadari bahwa beberapa berkat terbesar dalam hidup ternyata datang dalam bentuk batasan yang menjaga kita tetap berada dalam kehendak Tuhan. [LS]