Bangsa Israel pernah hidup sebagai budak di Mesir selama sekitar 400 tahun. Mereka dipaksa bekerja keras dan hidup di tengah budaya yang dipenuhi penyembahan berhala. Namun pada waktu yang telah Allah tetapkan, Ia membebaskan mereka. Melalui Musa, Ia melepaskan Israel dari perbudakan dan memanggil mereka menjadi umat yang hidup bagi-Nya. Sayangnya, setelah mengalami pembebasan, bangsa Israel justru berulang kali menolak kehendak Allah. Mereka lebih memilih mengikuti keinginan hati mereka sendiri daripada hidup sesuai dengan tujuan yang Allah tetapkan.
Peristiwa bangsa Israel tersebut mengingatkan kita pada kondisi diri kita sendiri. Dahulu kita diperbudak oleh dosa, tetapi melalui pengorbanan Yesus Kristus, Allah telah menebus dan membebaskan kita dari kuasa dosa supaya kita menjadi milik-Nya, hidup dalam kekudusan, dan memancarkan kemuliaan-Nya kepada dunia. Oleh karena itu, jangan gunakan kebebasan yang telah kita terima untuk kembali diperbudak oleh keinginan dosa. Hiduplah sebagai orang yang telah dimerdekakan, dengan mengarahkan hati kepada nilai-nilai Kerajaan Allah dan tujuan yang kekal. Rasul Paulus menjadi teladan saat ia berkata, "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp. 1:21). Melalui perkataan itu, Paulus menyatakan bahwa seluruh hidupnya berpusat kepada Kristus. Selama Tuhan masih memberinya kesempatan hidup, ia ingin terus melayani dan menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah (bdk. Flp. 1:22). Hari ini, marilah kita memeriksa kembali arah hidup kita. Apakah kemerdekaan yang Kristus berikan telah mengubah arah hidup kita, sehingga semakin nyata buah Roh dalam karakter dan cara hidup kita? Kiranya setiap talenta, kesempatan, dan sumber daya yang Tuhan percayakan dipakai untuk melayani-Nya dan menjadi berkat bagi sesama, sehingga melalui hidup kita nama Kristus semakin dimuliakan. [AP]