Setiap kita tahu bahwa mengampuni seharusnya menjadi ciri hidup kita sebagai anak Tuhan. Kita tahu bahwa mengampuni merupakan tanda dari hati yang mengasihi Tuhan. Namun bagaimana jika yang harus kita ampuni adalah orang yang terus menyakiti, mengkhianati, dan menyebabkan kehancuran hidup kita? Bagaimana jika orang itu adalah orang yang kita kasihi, atau bahkan darah daging kita sendiri?
Kisah Daud dan Absalom adalah potret pilu dari kasih seorang ayah di tengah pengkhianatan anaknya. Absalom telah mengkhianati, memberontak, bahkan ingin merebut tahta yang telah Tuhan beri kepada Daud. Namun Daud, dengan semua kesalahan yang telah diperbuat anaknya itu berkata kepada para panglimanya, "Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku." Kasih Daud memang luar biasa, namun tetap tidak menghentikan konsekuensi dari kesalahan Absalom. Perang terjadi, dan banyak nyawa melayang. Alkitab mencatat, pertumpahan darah yang dahsyat itu menewaskan dua puluh ribu orang. Kemudian pertempuran meluas sehingga lebih banyak orang yang mati terjebak di hutan daripada tewas di medan pertempuran (2 Sam. 18:7-8). Absalom sendiri akhirnya mati dalam pelariannya. Sebagai raja sekaligus ayah, Daud tentu mengalami dilema batin yang besar. Namun dari kisah inilah kita belajar bahwa mengampuni tak berarti menghapus konsekuensi. Daud mengasihi Absalom, namun Tuhan tetap izinkan konsekuensi berjalan sesuai kehendak-Nya. Sebab kasih tidak meniadakan keadilan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni kita. Namun, pengampunan bukan berarti meniadakan konsekuensi dari kesalahan dan membiarkan kesalahan berulang. Karenanya, jika seseorang yang kita kasihi berbuat kesalahan, ampunilah mereka tetapi jangan mengabaikan konsekuensi yang seharusnya mereka tanggung, seperti menjalani sanksi, membayar harga, serta menjalankan pertanggungjawaban agar mereka belajar dan bertumbuh melaluinya. Jangan memakai pengampunan sebagai tameng untuk menutupi dosa dan membungkam kebenaran yang akhirnya menyebarkan ketidakadilan. [RS]