Seorang budak yang diangkat menjadi anak mungkin hanya kita temukan dalam kisah-kisah fiksi. Dalam kehidupan nyata, keduanya memiliki status yang sangat bertolak belakang. Seorang budak tidak memiliki hak atas dirinya sendiri; hidupnya sepenuhnya berada di bawah kuasa tuannya hingga ia mati atau dijual. Sebaliknya, seorang anak hidup dalam kasih, menikmati pemeliharaan orang tuanya, dan memiliki hak atas warisan serta masa depan. Namun, justru gambaran yang tampaknya mustahil itulah yang dinyatakan Injil. Alkitab menyingkapkan bahwa kita semua telah menjadi budak dosa dan tidak mampu memenuhi tuntutan hukum Allah yang sempurna (Rm. 3:23; 6:17). Akibatnya, upah yang pantas kita terima adalah maut.
Namun, karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menanggung kutuk yang seharusnya kita terima melalui kematian-Nya di kayu salib (Gal. 3:13), sehingga tuntutan hukum Allah digenapi bagi kita (Rm. 8:3-4). Di dalam Kristus, kita dibebaskan dari perbudakan dosa, diperdamaikan dengan Allah, dan diangkat menjadi anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, Allah mengaruniakan Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, sehingga kita dapat berseru dengan penuh keyakinan, "Ya Abba, ya Bapa!" (Gal. 4:6). Kita tidak lagi hidup sebagai budak yang dikuasai rasa takut, melainkan sebagai anak yang hidup dalam kasih Bapa, menikmati pemeliharaan-Nya, dan menantikan warisan kekal yang telah Allah sediakan. Karena itu, marilah kita berpegang teguh kepada iman di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Dia, kita bukan lagi budak, melainkan anak-anak Allah dan juga ahli waris sesuai dengan janji-Nya. Mulai hari ini, hiduplah sesuai dengan identitas yang telah Allah berikan. Sebagai anak-anak Allah, nyatakanlah kasih, kebenaran, dan kekudusan-Nya di mana pun kita berada—di rumah, tempat kerja, sekolah, maupun di tengah masyarakat—supaya melalui hidup kita nama Bapa senantiasa dimuliakan. [AP]