Kisah Simson tidak berakhir dengan kemenangan karena kekuatannya, melainkan dengan anugerah Tuhan di tengah kelemahannya. Sejak awal, kekuatan yang Allah berikan telah menjadi identitas dan sumber kepercayaan dirinya. Karena itulah Simson akhirnya luluh oleh rayuan Delila dan mengungkap rahasia kekuatannya. Padahal, secara logis ia seharusnya menyadari pola yang berulang. Ini adalah kali keempat Delila berusaha mengetahui sumber kekuatannya, dan setiap itu pula selalu ada upaya untuk menangkapnya. Namun Simson tetap merasa aman. Ia berkata dalam hatinya, "Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas." (Hak. 16:20). Ia begitu yakin bahwa dirinya mampu melepaskan diri seperti sebelumnya. Namun, kali ini berbeda. Simson tidak menyadari bahwa Tuhan telah meninggalkannya.
Kini, Simson ada di titik terendahnya. Diliputi kelemahan, hilangnya penglihatan, kebebasan, dan kekuatannya, Simson mengakui ketidakberdayaannya. Dalam doa yang jujur, Simson menyadari bahwa Tuhanlah sumber kekuatannya, "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah." Yang luar biasa, bahkan dalam kerapuhan itu, Tuhan tetap menunjukkan bahwa kasih-Nya tidak berhenti pada kegagalan manusia. Di ambang kematiannya, keyakinan Simson kini berubah. Di titik terendahnya lahir kerendahan hati, yang mengakui siapa dirinya di dalam Tuhan. Karenanya, jangan pernah merasa kuat dan sombong. Pun di saat kita gagal dan jatuh, jangan pernah menjauh dari Tuhan. Kadang Tuhan mengizinkan kita sampai di titik terendah, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mengingatkan kembali siapa sumber kekuatan kita yang sebenarnya. Datang dan berserulah seperti Simson, "Ya Tuhan, ingatlah akan aku." [RS]