Di Antiokhia, Petrus hidup dalam kebebasan Injil. Ia bergaul dan makan bersama orang-orang non-Yahudi, karena ia mengerti bahwa keselamatan adalah oleh kasih karunia dan bukan hukum Taurat. Namun ketika orang-orang dari kelompok Yakobus datang (mereka adalah orang-orang Yahudi yang masih sangat memegang tradisi), Petrus menarik diri dan tidak mau makan dengan mereka. Petrus bukan tidak tahu kebenaran, ia melakukannya karena takut kehilangan reputasi atau dikritik oleh kelompok Yahudi yang konservatif. Kemungkinan besar orang-orang kelompok Yakobus ini memiliki prestise tertentu, pengaruh yang besar, atau kepribadian yang kuat. Apapun itu, ketakutan terhadap orang Kristen Yahudi yang legalistik ini begitu kuat, sehingga bahkan Barnabas pun—rekan pelayanan Paulus yang setia—terseret oleh kemunafikan mereka, dengan turut memperlakukan orang-orang Kristen non-Yahudi seolah-olah sama sekali bukan orang Kristen.
Fenomena yang terjadi pada Petrus dan Barnabas disebut sebagai konformitas sosial, yaitu perubahan sikap, perilaku, atau opini agar selaras dengan norma atau tekanan kelompok. Dalam kasus Petrus dan Barnabas, mereka mengubah sikap dan mengikuti arus karena tidak ingin menanggung konsekuensi sosial. Paulus melihat sikap seperti ini sangat berbahaya. Ini bukan sekadar perbedaan selera atau gaya berelasi, ini adalah kemunafikan yang menodai kebenaran Injil. Jujur saja kebanyakan dari kita pasti punya pengalaman mengingkari sesuatu yang kita tahu benar; kita tahu bagaimana rasanya ketika tekanan sosial mendorong kita untuk berkompromi dan mengikuti arus. Hari ini, teguran Paulus mengingatkan kita agar tidak mengulanginya dan berhati-hati ke depannya agar tidak terseret kemunafikan. Di mana pun kita berada, kita akan selalu berhadapan dengan kelompok-kelompok sosial. Yang namanya "terseret", bisa terasa seperti normalisasi atau kewajaran yang perlahan menarik kita menyangkali apa yang benar. Karena itu, biasakan untuk tetap mengatakan kebenaran dengan rendah hati, tetap lakukan yang benar sekalipun tidak populer. Tetap perlakukan siapa pun sesuai kebenaran Injil, bukan penilaian/tekanan kelompok. Kita melawan kemunafikan dengan cara menjaga kesetiaan terhadap Injil melalui keputusan-keputusan kecil yang konsisten, karena Injil layak untuk dihidupi sepenuh hati. [LS]