Setelah Rasul Paulus menjelaskan tentang kasih karunia, keselamatan, dan hidup baru di dalam Kristus, di akhir surat Roma jemaat diminta waspada terhadap orang-orang yang menimbulkan perpecahan dan godaan, orang-orang yang menyesatkan, dan yang melayani perut mereka sendiri dengan kata-kata yang muluk dan bahasa yang manis untuk menipu. Di tengah kondisi demikian, Paulus pun berpesan supaya jemaat bijaksana terhadap apa yang baik dan bersih terhadap apa yang jahat.
Kata "bijaksana" (sophos) adalah kata yang sangat kaya makna dalam Perjanjian Baru. Kata ini tidak sekadar berarti cerdas atau berpengetahuan, tetapi merujuk pada seseorang yang memiliki pengertian mendalam, mampu membedakan yang benar dan salah, tahu menerapkan kebenaran dalam kehidupan nyata, memiliki keterampilan moral dan rohani dalam mengambil keputusan. Dalam budaya Yunani, "Sophos" dipakai untuk seorang ahli. Jadi, bijaksana adalah menjadi ahli dalam hal-hal yang baik serta memiliki hikmat yang diarahkan pada segala yang baik. Kontras dengan frasa "bersih terhadap yang jahat", Paulus tidak berkata untuk menjadi ahli tentang kejahatan. Sebaliknya ia memakai kata "akeraios" yang berarti murni, tidak tercemar dan bercampur. Ini berarti, orang percaya harusnya ahli dalam hal kebaikan, namun tidak berpengalaman dalam hal kejahatan. Bagaikan seorang petugas bank yang dilatih mengenali uang asli. Ia tak perlu mempelajari semua ciri uang palsu, namun dengan mengenali uang asli secara mendalam, ia dapat segera mengenali kepalsuan. Jadi Paulus mengajarkan prinsip rohani yang penting bagi kita bahwa kekudusan tidak dibangun dengan mempelajari dosa, tetapi dengan mendalami kebenaran. Demikianlah panggilan kita adalah memenuhi hati dan pikiran kita dengan firman Tuhan. Hikmat Kristen bukan sekadar mengetahui banyak hal tentang dosa, tetapi saat di mana kita semakin mengenal Tuhan, semakin peka, semakin memiliki karakter yang dibentuk oleh firman-Nya, dan semakin setia melakukan apa yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan. [RS]