Kedekatan dengan keluarga, pasangan, teman, atau rekan pelayanan, sering kali membuat kita semakin peduli kepada mereka. Setiap keputusan yang mereka ambil dan setiap musim kehidupan yang mereka jalani terasa begitu berarti bagi kita. Karena menginginkan yang terbaik bagi mereka, kita terdorong untuk menawarkan bantuan, mengingatkan saat mereka keliru, atau memberikan saran ketika ada sesuatu yang perlu dikembangkan. Semua itu dapat menjadi ungkapan kepedulian. Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan tentang motivasi dari tindakan kepedulian tersebut: apakah kepedulian kita benar-benar bertujuan membangun mereka, atau tanpa sadar menjadi cara untuk mengendalikan mereka?
Kendali selalu melibatkan kuasa dan dominasi, dengan memperlakukan orang lain seolah-olah mereka berada di bawah kita atau membuat mereka merasa lemah, merasa bersalah, sehingga bergantung dan menuruti apa yang kita inginkan. Sikap seperti ini tidak selalu tampak dalam bentuk paksaan yang terang-terangan. Terkadang, keinginan untuk mengendalikan dapat dilakukan secara halus, bahkan dibungkus dengan alasan "demi kebaikan". Untuk dapat menunjukkan kepedulian dengan benar, kita harus belajar dari teladan yang sempurna. Yesus telah lebih dahulu mempedulikan kita dengan kasih yang tulus, dan kehidupan-Nya menjadi tolok ukur bagaimana kita mempedulikan sesama. Ia tidak memanipulasi, mengintimidasi, atau mengendalikan orang agar menjadi murid-Nya, tetapi memanggil mereka dengan kasih dan kebenaran. Kepedulian-Nya tidak bertujuan menguasai, melainkan memulihkan, membebaskan, dan menuntun orang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah. Karena itu kepedulian yang sejati seharusnya hadir untuk membangun dan menolong orang lain bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Mari kita senantiasa memeriksa motivasi hati ketika kita memberi nasihat, kritik, atau arahan. Kasih yang sejati berusaha memahami, mendengarkan, dan menginginkan yang terbaik bagi orang lain. Belajarlah meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan hati yang terbuka alih-alih mendikte kehidupan orang lain dengan cara kita. Bawalah setiap pergumulan dan keputusan dalam doa, memohon pimpinan Roh Kudus agar setiap langkah kepedulian yang diambil sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan dan membawa pertumbuhan bagi semua yang terlibat. [SR]