Rasa takut adalah respons alami manusia ketika memikirkan kematian. Kematian bukanlah bagian dari rancangan Allah ketika Ia menciptakan manusia. Sebagai akibat dosa, kematian menjadi musuh yang membayangi setiap orang. Karena itu, rasa gentar terhadap kematian adalah respons yang dapat dimengerti. Masalahnya, rasa takut itu dapat menguasai hidup seseorang. Rasa takut ini muncul secara tersembunyi di balik dorongan untuk mengejar rasa aman melalui harta, menjaga kesehatan secara berlebihan, atau membangun berbagai pencapaian. Jika Anda menyadari kecenderungan ini dalam diri Anda, perhatikanlah kata firman Tuhan.
Penulis Ibrani menjelaskan bahwa salah satu tujuan kedatangan Yesus adalah membebaskan manusia dari rasa takut akan kematian. Karena manusia mengambil bagian dalam darah dan daging, Sang Anak Allah pun rela menjadi manusia sepenuhnya. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Kristus mematahkan kuasa Iblis yang memanfaatkan dosa dan kematian untuk memperbudak manusia. Ayat ini bukan berarti Iblis memiliki kuasa mutlak atas hidup dan mati manusia, sebab hanya Allah yang berdaulat atas kehidupan. Namun, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Iblis menggunakan kenyataan dosa dan maut untuk menawan manusia dalam ketakutan. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, hukuman dosa telah ditanggung, maut telah dikalahkan, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki pengharapan akan hidup yang kekal. Inilah sebabnya mereka tidak lagi diperbudak oleh rasa takut akan kematian. Yang tidak kalah menarik, penulis Ibrani menambahkan bahwa Kristus datang bukan untuk memberi pertolongan kepada malaikat-malaikat, melainkan kepada keturunan Abraham (ay. 16), yaitu umat Allah yang menerima janji-Nya melalui iman kepada Kristus. Di dalam Dia, kita memiliki identitas baru sebagai anak-anak Allah yang hidup dalam pengharapan yang pasti. Kematian tetap menjadi kenyataan yang akan dihadapi setiap orang, tetapi bagi orang percaya, kematian bukan lagi akhir dari segalanya. Kematian telah menjadi pintu masuk menuju persekutuan yang kekal dengan Kristus. Karena itu, jangan biarkan rasa takut akan kematian mengendalikan cara kita menjalani hidup hari ini. Hiduplah dengan keberanian yang lahir dari Injil. Gunakan setiap kesempatan untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan mengerjakan panggilan yang telah Ia percayakan. Pengharapan kita tidak terletak pada panjangnya usia, banyaknya harta, atau seberapa bugar tubuh kita, melainkan pada Kristus yang telah mengalahkan maut. Di dalam Dia, kematian bukan lagi ancaman yang memperbudak, melainkan pintu menuju persekutuan yang kekal bersama-Nya. [SR, LS]