Ketika hidup kita berjalan baik, semua tagihan terbayar dengan mudah, dan semua kebutuhan terpenuhi, kita lebih mudah melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan. Namun, saat tekanan hidup datang bertubi-tubi, pandangan kita terhadap Tuhan dapat menjadi sempit, berubah, bahkan salah paham. Kita mulai merasa sendirian, gagal, atau bahkan berpikir bahwa Tuhan tak lagi bekerja dalam hidup kita. Kisah Elia akan menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya sedang Tuhan kerjakan di balik tekanan hidup.
Suatu hari, Sungai Kerit menjadi kering. Sungai yang sebelumnya dipakai Tuhan sebagai alat pemeliharaan bagi Elia akhirnya berhenti mengalir. Di titik ini, Tuhan menyatakan hal yang sangat penting bagi kita, bahwa iman tidak boleh bergantung pada saluran, melainkan kepada Pribadi yang menyediakan saluran itu. Selama sungai masih mengalir, ada bahaya Elia mulai mengandalkan sungai. Tetapi ketika sungai itu kering, Elia dipaksa kembali menyadari bahwa sejak awal bukan Kerit yang memeliharanya. Tuhanlah yang memeliharanya. Dengan cara yang sama, Tuhan mendidik kita dalam hidup. Tuhan mengizinkan "Kerit" dalam hidup kita mengering—entah itu pekerjaan, relasi, atau sumber penghasilan yang selama ini kita andalkan. Tuhan izinkan itu terjadi, bukan karena Ia berhenti memelihara, tetapi karena Ia sedang mengalihkan kepercayaan kita dari pemberian kepada Sang Pemberi. Dalam pengalaman Elia, Kerit bukanlah akhir dari hidupnya. Ketika sungai mengering, Tuhan sudah menyiapkan Sarfat (ay. 8-9). Pemeliharaan Tuhan tidak pernah berhenti; hanya cara-Nya yang mungkin berubah. Pun di Sarfat, Tuhan kembali menunjukkan bahwa pemeliharaan-Nya tidak pernah dibatasi oleh keadaan atau pun sumber daya manusia. Tuhan memakai seorang janda yang miskin untuk memelihara Elia. Secara manusia, pilihan itu tampak tidak masuk akal. Namun justru melalui sarana yang paling tidak mungkin, Tuhan menunjukkan bahwa pemeliharaan-Nya nyata melampaui pemikiran kita. Inilah yang perlu kita ingat ketika menghadapi masa-masa penuh tekanan. Sering kali kita lebih sibuk mempertahankan dan meratapi "Kerit" daripada mempercayai Tuhan yang memimpin kita keluar dari "Kerit". Kita berharap Tuhan mengembalikan keadaan seperti semula, padahal Ia mungkin sedang mengajak kita melangkah menuju babak baru yang telah dipersiapkan-Nya. Yang terpenting bukanlah apakah saluran pemeliharaan itu tetap sama, melainkan apakah kita tetap percaya kepada Allah yang tidak pernah berubah. Tekanan memang dapat mengubah banyak hal, tetapi tekanan tidak pernah mengubah karakter Tuhan. Ia tetap setia, tetap berdaulat, dan tetap memelihara anak-anak-Nya. Mungkin cara-Nya berbeda dari yang kita harapkan, tetapi tujuan-Nya selalu sama, yaitu membentuk kita menjadi orang yang semakin bergantung kepada-Nya, bukan kepada berkat-berkat-Nya. [LS]