Tuhan mengaruniakan perasaan kepada setiap manusia sebagai bagian dari kehidupan yang Ia ciptakan. Melalui perasaan, kita dapat merespons berbagai peristiwa dengan sukacita, kesedihan, ketakutan, ketenangan, atau harapan. Karena itu, perasaan tidak bisa diabaikan. Namun, perasaan memiliki keterbatasan. Apa yang kita rasakan dapat berubah dengan cepat karena berbagai faktor, seperti kelelahan, tekanan hidup, kondisi fisik, maupun kejadian di sekitar kita. Oleh sebab itu, perasaan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai realitas, termasuk realitas akan kehadiran dan penyertaan Tuhan.
Damai sejahtera, sukacita, dan ketenangan sering kali menjadi bagian dari pengalaman bersama Tuhan. Ada kalanya kita merasa dekat dengan Tuhan, tetapi ada juga masa-masa ketika doa terasa formalitas, hati terasa kosong, dan Tuhan seakan diam. Meski begitu, perasaan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa Tuhan meninggalkan kita atau berhenti bekerja dalam hidup kita. Ayub memahami kenyataan ini. Di tengah penderitaan yang berat, ia tidak selalu mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan. Bahkan, ada saat-saat ia merasa tidak dapat menemukan Tuhan di mana pun ia mencari-Nya. Namun, Ayub tetap berpegang pada keyakinan bahwa Tuhan mengenal jalannya dan sedang mengerjakan sesuatu yang baik melalui setiap pergumulan yang ia alami. Imannya tidak dibangun di atas apa yang ia rasakan, melainkan pada pribadi Tuhan yang ia kenal dan percayai. Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika mengalami kelelahan, burnout, kekecewaan, atau musim kehidupan yang penuh pergumulan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita. Sebaliknya, tetaplah datang kepada-Nya dalam doa, berpegang pada firman-Nya, dan terus berjalan dalam ketaatan. Roh Kudus tetap bekerja, sekalipun tidak selalu disertai pengalaman emosional yang kuat. Sering kali Tuhan justru sedang membentuk iman yang lebih dewasa; iman yang tidak bergantung pada suasana hati, melainkan pada kebenaran firman-Nya. Sebab salah satu tanda kedewasaan rohani adalah ketika kita tetap percaya di tengah ketidakpastian, tetap berharap di tengah kelelahan, dan tetap taat ketika perasaan tidak mendukung. Kita memilih untuk tetap mempercayai Tuhan, lebih daripada apa yang kita rasakan. Perasaan kita berubah-ubah, tetapi Tuhan tetap setia. Kehadiran, kasih, dan karya-Nya dalam hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang kita rasakan, melainkan oleh karakter-Nya yang tidak pernah berubah. [SR]