Pada dasarnya, manusia berkembang dengan berbagai tekanan yang mereka alami. Seperti seorang atlet, mereka kerap kali menghadapi tekanan dari setiap pertandingan yang diikutinya. Jika dipandang sebagai beban saja, maka tekanan hanya akan memberatkan kehidupan orang yang menjalaninya. Oleh karena itu, kita perlu memahami tekanan bukan hanya sebagai kesulitan yang harus dihindari, tetapi sebagai salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk membentuk kita, salah satunya dengan menjadikannya latihan untuk membangun karakter diri yang lebih baik. Seperti seorang atlet yang bijak, kita perlu menjadikan tekanan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi, melatih, dan memperbaiki karakter menjadi lebih baik.
Jemaat di Roma adalah salah satu jemaat Kristen pada abad pertama yang menghadapi tekanan hidup luar biasa akibat persekusi dari kekaisaran Roma. Namun rasul Paulus mendorong mereka untuk terus bermegah atas iman mereka, sebab kesengsaraan yang mereka terima dapat menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan yang tidak mengecewakan. Jadi, sesungguhnya tekanan yang jemaat Roma terima dapat membangun karakter tahan uji sebagai pengikut Kristus. Dengan karakter yang tahan uji, mereka bisa terus memperjuangan iman Kristen dalam ketaatan. Seperti rasul Paulus yang melatih tubuh dan menguasai seluruhnya agar tidak menjalani hidup dengan sembarangan dan tanpa tujuan, maka sudah seharusnya kita pun merespons tekanan yang datang ke dalam hidup kita dengan tidak hanya memandangnya sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk terus berkembang dalam karakter yang lebih baik setiap harinya. Jika ada tekanan dalam hal pekerjaan, pakailah hal itu untuk belajar meningkatkan kompetensi. Jika ada tekanan dalam hal keluarga, pakailah hal itu untuk mempererat cinta kasih persaudaraan. Jika ada masalah dengan keyakinan, pakailah hal itu untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. [AP]