Penulis Amsal memberi tahu kita bahwa ada waktu yang dinamakan dengan "masa kesesakan". Ini adalah masa dimana kita harus menghadapi tekanan, penderitaan, atau kesengsaraan hidup. Masa kesesakan ini bersifat netral. Kesesakan tidak pernah menciptakan kelemahan dalam diri seseorang; kesesakan justru akan menyingkapkan karakter kita yang sesungguhnya. Di hari-hari yang tenang, siapa pun akan tampak kuat. Tetapi di hari yang gelap, ukuran spiritualitas seseorang terlihat jelas. Kekuatan rohani bukanlah apa yang kita tunjukkan di masa-masa mudah, tetapi apa yang tetap kita pegang teguh di masa kesesakan.
Ayub mengalami masa kesesakan yang brutal. Ketika anak-anak, harta, dan kesehatan direnggut darinya, Ayub dapat berkata, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Kesesakan tidak membuatnya meninggalkan Tuhan. Ia terbukti kuat bukan karena tidak ada badai, tetapi karena imannya bertahan di tengah badai. Kita melihat hal yang kontras dari istri Ayub. Ia berkata, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2:9). Masa kesesakan menelanjangi hatinya, kita melihat kemana hidupnya berpaut selama ini dan betapa kecil kekuatan rohaninya. Jadi, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah: "apakah kita benar-benar kuat secara rohani, atau kita terlihat kuat hanya karena hidup sedang baik-baik saja?" Karena itu, tugas kita hari ini bukan hanya mengevaluasi kekuatan rohani; tetapi juga untuk berkomitmen membangun kekuatan rohani sejati, melalui konsistensi merenungkan firman Tuhan (Mazmur 119:28), melalui konsistensi doa (Filipi 4:6), melalui kebergantungan kepada Roh Kudus (Zakharia 4:6), dan melalui kesabaran yang dihasilkan di tengah tekanan (Roma 5:3-4). Jika saat ini Anda sedang berada dalam masa kesesakan – atau jika nanti masa kesesakan itu tiba, biarlah kita tetap kuat di dalam Tuhan. Kita harus terus memandang Tuhan sebagai perlindungan kita (Ul. 33:27) dan berseru kepada-Nya dengan keyakinan pada janji-Nya bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Siapa pun yang mengandalkan Tuhan akan menerima kekuatan dan kasih karunia yang cukup untuk bertahan dalam masa kesesakan (Yes. 40:29; Kol. 1:11). [LS]