Mengikut Tuhan berarti bersedia menjalani berbagai proses pembentukan. Salah satu proses yang Tuhan pakai untuk membentuk kehidupan kita adalah melalui hubungan dengan sesama. Daud yang disebut sebagai "orang yang berkenan di hati Tuhan", justru sering menghadapi penolakan, pengkhianatan, dan perlakuan tidak adil dari orang-orang terdekatnya. Ketika Samuel hendak mengurapi seorang raja, kehadiran Daud bahkan tak dianggap penting oleh ayahnya sendiri. Daud ada di padang, yang diundang hanya kakak-kakaknya yang dianggap layak dan berpotensi. Dari kakaknya, Daud pun mendapat penolakan. Saat mengantar makanan kakaknya ke medan pertempuran, ia justru direndahkan di depan banyak orang. Eliab marah dan menuduh Daud dengan buruk (1 Sam. 17:28). Proses terus berlanjut. Setelah mengalahkan Goliat, pujian dari rakyat membuatnya tidak disukai Saul. Orang yang ia layani justru menjadi orang yang sangat ingin membunuhnya. Dalam urusan asmara, Daud juga diproses. Untuk mendapat istrinya, Daud harus menukarnya dengan 100 kulit khatan orang Filistin (1 Sam. 18:25-27). Di rumahnya sendiri, istrinya, Mikhal, sempat merendahkan Daud (2 Sam. 6:20-23).
Meski menyakitkan, Daud telah belajar satu hal penting yang ia tuangkan dalam sebuah mazmur, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." (Mzm. 27:10). Iman Daud tidak bergantung pada penerimaan manusia. Daud yang tahu betul rasanya dilukai orang-orang terdekat, menyadari bahwa Tuhan setia menyertai dan memahaminya. Tidak semua relasi berjalan baik, dan ini sering terjadi pada kita. Bahkan tak jarang relasi menjadi sumber luka terbesar kita, saat keluarga atau orang yang kita kasihi justru tidak hadir dan memberi rasa aman. Namun melalui relasilah Tuhan membentuk kita, apakah kita hidup di atas penerimaan manusia atau dari keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Mari belajar seperti Daud, jangan biarkan kepahitan menguasai, bergantunglah sepenuhnya pada kasih sayang Tuhan. [RS]