Tekanan sering kali mengubah cara kita memandang hidup. Ketika kebutuhan hidup semakin besar, masa depan terlihat suram, atau ada persoalan tak kunjung selesai, pikiran kita mudah dipenuhi kekhawatiran. Akibatnya, perhatian kita tak lagi tertuju kepada Tuhan, melainkan kepada besarnya masalah yang sedang kita hadapi.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yesus tidak mengatakan bahwa hidup akan bebas dari tekanan. Sebaliknya, Ia berbicara kepada orang-orang yang bergumul dengan kebutuhan sehari-hari, yaitu makanan, minuman, dan pakaian. Semua itu adalah kebutuhan yang nyata, bukan persoalan sepele. Namun, di tengah tekanan tersebut, Yesus mengajarkan sebuah prinsip penting bahwa iman bukanlah mengabaikan kenyataan, melainkan memandang kenyataan melalui kacamata pemeliharaan Allah. Yesus mengajak para murid memperhatikan burung di udara dan bunga di padang. Burung tidak dapat menabur, menuai, atau menimbun makanan, tetapi Bapa tetap memberi mereka makan. Bunga tidak memintal benang, tetapi Allah tetap memeliharanya dengan keindahan yang luar biasa. Jika Allah begitu memperhatikan ciptaan-Nya, terlebih lagi anak-anak-Nya yang berharga di mata-Nya (ay. 26, 30). Di sinilah letak perbedaan antara iman dan kekhawatiran. Kekhawatiran lahir ketika kita merasa harus memikul seluruh beban hidup dengan kekuatan sendiri. Iman lahir ketika kita menyadari bahwa ada Bapa di Sorga yang memegang kendali atas hidup kita. Tekanan mungkin tidak langsung hilang, tetapi iman mengubah cara kita menjalaninya. Orang yang beriman tetap bekerja, tetap berusaha, tetap bertanggung jawab, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh rasa takut karena ia percaya Tuhan pasti memeliharanya. Karena itu, Yesus memerintahkan, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (ay. 33). Perintah ini bukan berarti kita mengabaikan kebutuhan hidup. Justru di tengah segala tuntutan hidup, Yesus mengajak kita menjaga prioritas, jangan sampai tekanan membuat kita kehilangan fokus kepada Tuhan. Ketika Kerajaan Allah menjadi prioritas, kita belajar mempercayakan apa yang tidak dapat kita kendalikan kepada Pribadi yang mengendalikan segala sesuatu. Oleh sebab itu, janganlah khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Ingat, kasih karunia Tuhan selalu baru tiap pagi dan selalu cukup untuk hari ini. [LS]