Teknologi komunikasi modern membuat setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya dengan cepat dan kepada banyak orang sekaligus. Kita pasti memiliki lebih dari satu grup percakapan di ponsel kita, guna mempermudah komunikasi dengan orang-orang. Masalah yang sering kita temui adalah orang-orang yang menyampaikan pendapat – lisan maupun tulisan/ketikan – bukan karena mereka memiliki sesuatu yang penting dan valid untuk disampaikan. Ada orang yang selalu ikut berpendapat dan memberi tanggapan, hanya karena dorongan emosional, ingin membuktikan diri, mencari pengakuan, bahkan sekadar bereaksi dan ikut-ikutan tanpa berpikir panjang.
Firman Tuhan memberi peringatan: Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. Semakin banyak seseorang berbicara, semakin besar kemungkinan ia mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan. Banyak dosa keluar dari mulut bibir kita – gosip, janji yang gegabah, fitnah, kesombongan, kemarahan, dusta, kritik yang melukai, hingga perkataan yang meremehkan orang lain. Tuhan Yesus berkata bahwa mulut kita adalah jendela hati kita (Mat.12:34). Saat seseorang terus berbicara, isi hatinya akan nampak. Kesombongan yang tersembunyi muncul. Kepahitan yang dipendam keluar. Keinginan untuk dianggap hebat akan terdengar dalam setiap kalimat. Karena itu, masalah di dalam banyak bicara sebenarnya bukan sekadar masalah lidah, tetapi masalah hati. Ketika Ayub mengalami penderitaan luar biasa, sahabat-sahabatnya datang untuk menghiburnya. Pada awalnya, mereka melakukan sesuatu yang sangat baik, yaitu duduk bersama Ayub selama tujuh hari tujuh malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin inilah pelayanan terbaik yang mereka berikan bagi Ayub. Namun masalah muncul ketika mereka mulai berbicara. Semakin panjang pembicaraan berlangsung, semakin banyak tuduhan yang disampaikan. Mereka merasa memiliki jawaban untuk semua penderitaan Ayub. Mereka bicara panjang lebar tentang dosa, hukuman, dan keadilan Allah, padahal mereka tidak mengetahui apa yang sebenar-benarnya terjadi. Pada akhirnya Allah menegur mereka karena apa yang mereka katakan itu salah. Seseorang dapat berbicara banyak tentang Allah, tapi belum tentu memahami apa yang sedang Allah kerjakan. Karena itu, berbicaralah secukupnya. Selain berdoa agar Tuhan memberi kita kata-kata yang tepat, mintalah agar Roh Kudus menunjukkan kata-kata yang tidak perlu kita ucapkan. Belajarlah lebih bijaksana, tidak semua hal dalam hati dan pikiran harus dikatakan. [LS]