Ada saat kita begitu kewalahan dalam pelayanan. Sama seperti Marta yang begitu sibuk saat Yesus datang. Marta ingin melayani dengan maksimal. Namun di tengah kesibukan itu, hatinya mulai gelisah, merasa sibuk sendirian, mulai membandingkan diri, dan mengeluh. Berbeda dengan Maria. Saat Yesus datang, Maria menyambut-Nya, memilih duduk dekat kaki Yesus dan mendengar-Nya. Maria menikmati kebersamaan dengan Yesus, dan itulah yang Yesus sebut sebagai bagian yang terbaik. Sebenarnya Marta dan Maria sama-sama mengasihi dan ingin menyenangkan Tuhan Yesus. Sayangnya, Marta terdistraksi oleh "pelayanan". Alkitab mencatat, "Marta sibuk sekali melayani." Secara retoris, Lukas menempatkan Marta dalam keadaan "spiritual overload". Pelayanan yang awalnya ingin menyenangkan Tuhan malah membuat hatinya jauh dari Tuhan.
Disadari atau tidak, kita bisa terjebak seperti Marta. Begitu aktif melayani, namun sebenarnya hati kita jauh dari hadirat Tuhan. Saking sibuknya melayani, kita tak sempat bersekutu dengan Tuhan. Ketahuilah, yang Yesus tegur adalah sikap hati Marta yang terpecah, menjadi cemas, dan akhirnya menyusahkan diri sendiri. Melayani sangatlah penting, tapi jika karena pelayanan itu hati kita malah kehilangan keintiman dengan Tuhan, maka sesungguhnya "engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara." Karena itu, sebelum berbicara tentang Tuhan, dengarkanlah Dia. Sebelum melayani Tuhan dan sesama, izinkan hati kita dipenuhi Roh-Nya lebih dulu. Kita tidak sedang melayani "sesuatu" tetapi melayani "Pribadi". Tanpa hubungan yang dekat dengan Tuhan, pelayanan kita hanya akan menjadi beban. Karena itu bila akhir-akhir ini kita melayani dengan sungut-sungut, keluhan, dan mulai membandingkan diri, yang kita perlukan adalah duduk di kaki Tuhan. Mari "duduk" di kaki Tuhan sebelum kita "berdiri" melayani pekerjaan-Nya, sehingga pelayanan kita menjadi aliran kasih, bukan kewajiban yang menekan. [RS]