Tekanan terasa berat saat kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan keadaan itu terjadi. Inilah yang dialami oleh Habakuk. Ia hidup di masa Yehuda mengalami kemerosotan rohani. Kekerasan, ketidakadilan, kejahatan terjadi di mana-mana, sementara Tuhan tampak diam. Karena itulah Habakuk berseru, "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?" (Hab. 1:2). Kata "berteriak" di sini menggunakan kata shava`, yang menggambarkan jeritan minta tolong dari orang yang sedang berada dalam tekanan dan kesesakan yang mendalam. Habakuk yang sedang tertekan membawa kesesakannya itu kepada Tuhan. Namun, tekanan Habakuk semakin berat saat mendapat jawaban bahwa Tuhan akan memakai Babel untuk menghukum Yehuda (Hab. 1:5-11). Bagaimana mungkin Allah yang kudus memakai bangsa yang lebih jahat untuk menjalankan rencana-Nya? Kini pergumulannya bukan lagi sekadar mengapa Tuhan tidak bertindak, melainkan mengapa Tuhan bertindak dengan cara yang tidak ia mengerti. Bagi Habakuk, hal ini sulit diterima. Namun, di akhir kitabnya kita dapati Habakuk berkata bahwa sekalipun pohon ara tidak berbunga dan ladang tidak menghasilkan apa-apa, ia tetap bersukacita di dalam Tuhan (Hab. 3:17-19). Ternyata, titik balik Habakuk terjadi ketika Tuhan menyatakan, "Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (Hab. 2:4). Kata "percaya" (' emuwnah), tak hanya berarti percaya secara intelektual, tetapi juga mencakup kesetiaan, keteguhan, dan ketahanan untuk tetap berpegang pada Tuhan. Meski Habakuk akhirnya tidak memperoleh jawaban yang ia ingini, namun ia mendapat pengenalan yang lebih dalam akan Allah. Itu sebabnya meski keadaan di sekelilingnya belum berubah, imannya tetap teguh. Habakuk kini sadar bahwa sumber kekuatannya bukanlah kepastian tentang masa depan, melainkan kepastian tentang siapa Allah yang memegang masa depan itu sendiri.
Tekanan terbesar dalam hidup sering kali terjadi ketika harapan kita tentang apa yang seharusnya Tuhan lakukan tidak sejalan dengan cara Tuhan bekerja. Pada saat-saat seperti itu, akal dan kekuatan kita kerap mencapai batasnya. Dalam keadaan seperti itulah kita membutuhkan iman. Iman bertumbuh melalui pendengaran akan firman Tuhan. Ketika kita memilih untuk tetap berpegang teguh pada firman-Nya di tengah ketidakpastian, tetap percaya kepada kedaulatan dan rencana-Nya meskipun keadaan belum berubah, pada saat itulah iman kita dibentuk, dikuatkan, dan dimatangkan. [RS]