Daud rindu melakukan hal besar bagi Tuhan. Ia merasa tidak pantas tinggal di istana megah sementara tabut Allah berada dalam kemah (2 Sam. 7:2). Ia ingin membangun rumah bagi Tuhan. Nabi Natan pun pada awalnya setuju. Niat itu lahir dari kasih dan hormat kepada Tuhan. Namun Tuhan berkata "tidak". Bukan karena hati Daud salah, melainkan karena itu bukan perannya. Daud adalah raja perang. Hidupnya diwarnai peperangan, penaklukan, dan pertumpahan darah. Dalam 1 Raja-raja 8:17-18, Tuhan mengakui ketulusan hati Daud. Namun pengakuan atas niat yang baik tidak otomatis pemberian izin untuk bertindak. Tuhan membedakan antara niat yang baik dan peran yang tepat.
Sering kali pergumulan kita bukan karena niat yang salah, melainkan karena kita ingin melakukan sesuatu yang baik di luar bagian yang Tuhan tetapkan bagi kita. Kita ingin menjadi segalanya, melakukan sebanyak-banyaknya, dan meninggalkan warisan rohani yang besarânamun lupa bahwa ada kalanya ketaatan tidak selalu berarti melakukan, kadang justru berarti melepaskan. Daud taat, ia menerima kata "tidak" dari Tuhan. Daud juga menunjukkan keluasan hatinya dengan mempersiapkan generasi berikutnya. Daud tidak membangun bait itu, tetapi ia memastikan Salomo bisa membangunnya dengan bantuan-bantuan yang ia upayakan, bahkan dari kepunyaannya sendiri, "dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku...aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri" (1 Taw. 29:2-3). Di situlah kebesaran hati Daud terlihatâia memiliki kerendahan hati untuk berhenti ketika Tuhan berkata "tidak". Karena itu ujian dari motivasi kita adalah: "Apakah kita hanya ingin menjadi besar, atau kita juga bersedia menolong orang lain bertumbuh dan mencapai apa yang Tuhan percayakan kepada mereka?" Pendeta F.B. Meyer menuliskan, jika kita tidak memperoleh apa yang kita harapkan, jangan duduk dalam keputusasaan dan membiarkan tenaga kita terbuang sia-sia. Pakai hidup kita untuk menolong orang lain meraih apa yang harus mereka capai. Jika kita tidak diizinkan membangun, kita masih bisa mengumpulkan bahan bagi mereka yang akan membangunnya. Jadi, sekalipun kita tidak dipilih untuk "membangun", marilah kita tetap setia mempersiapkan, memperlengkapi, dan mendukung mereka yang Tuhan tetapkan untuk mengerjakannya. Sebab niat baik, dukungan, dan kesetiaan kita tetap berharga di mata-Nya. [LS]