Salah satu bagian paling menantang dalam perjalanan hidup adalah ketika cara Tuhan tidak sesuai dengan harapan kita. Kita berharap jalan yang lebih mudah, tetapi Tuhan justru membawa kita ke situasi yang tampaknya lebih sulit dan penuh tekanan. Pengalaman inilah yang dihadapi Elia dalam perjalanannya menuju Sarfat. Setelah mengalami pemeliharaan Tuhan di sungai Kerit, tiba-tiba sungai itu mengering. Sumber yang selama ini menopangnya hilang. Namun yang lebih membingungkan lagi, Tuhan menyuruhnya pergi ke Sarfat dan bergantung pada seorang janda miskin. Dari sudut pandang manusia, perintah itu sulit dipahami. Jika Tuhan hendak memelihara Elia, bukankah lebih masuk akal mengutusnya kepada orang kaya? Mengapa justru kepada seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri? Namun Elia taat. Ia melangkah tanpa mengetahui bagaimana Tuhan akan bekerja. Ketika ia tiba di Sarfat, situasinya ternyata tidak lebih baik dari yang dibayangkannya. Janda itu hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak—persediaan terakhir sebelum menghadapi kelaparan. Di sinilah cara kerja Tuhan sering kali berbeda dari harapan kita. Tuhan tidak selalu membawa kita keluar dari tekanan seketika. Kadang Ia justru membawa kita masuk ke situasi yang membuat kita semakin bergantung kepada-Nya. Tuhan tidak memberikan penjelasan kepada Elia; Ia memberikan kesempatan bagi Elia untuk semakin mempercayai-Nya.
Pada akhirnya, tepung tidak habis dan minyak tidak berkurang. Cara Tuhan bekerja sering kali melampaui pemahaman kita. Pemeliharaan Tuhan juga dinyatakan melalui kesetiaan-Nya yang dinyatakan hari demi hari. Mungkin hari ini Anda sedang berada di "Sarfat" Anda sendiri. Keadaan belum berubah, jawaban belum terlihat, dan cara Tuhan terasa sulit dipahami. Ingatlah bahwa ketika Anda tidak dapat melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan, bukan berarti Ia berhenti bekerja. Sama seperti Elia, Anda mungkin belum memahami rencana-Nya sekarang, tetapi Anda dapat mempercayai Pribadi yang memegang rencana itu. [LS]