Banyak di antara kita datang kepada Tuhan dengan daftar permintaan yang panjang seperti memohon berkat dalam kesehatan, pekerjaan, keuangan, dan aspek hidup lainnya. Tuhan adalah sumber segala berkat. Ia pun terbuka ketika kita meminta kepada-Nya. Namun, ironi yang terjadi adalah ketika berkat justru menjadi tujuan iman. Kita bisa begitu rajin melayani, berdoa, bahkan berpuasa, tetapi dengan motivasi memperoleh sesuatu dari Tuhan. Ketika hal itu terjadi, iman yang seharusnya menjadi sarana untuk berelasi dan mengenal Tuhan perlahan berubah menjadi semacam transaksi. Karena itu, kita perlu menilai, apa yang sebenarnya menjadi pusat iman kita? Apakah pribadi Tuhan yang kita cari dan kasihi, atau berkat semata yang kita harapkan dari-Nya? Iman yang benar dan dewasa tidak menjadikan berkat sebagai tujuan utama, tetapi menempatkan Tuhan sebagai harta yang paling berharga.
Salah satu tanda bahwa berkat telah menjadi tujuan iman adalah ketika aktivitas rohani yang kita lakukan tidak lagi berpusat kepada Tuhan, melainkan pada diri sendiri. Inilah yang ditegur Tuhan melalui nabi Zakharia. Orang-orang Israel berpuasa dan menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, tetapi Tuhan bertanya, "Sungguhkah untuk Aku kamu berpuasa?" (Zak. 7:5). Masalahnya bukan pada puasanya, melainkan pada motivasi hati. Perbuatan mereka terlihat benar, tetapi motivasinya bukan untuk Tuhan. Teguran ini juga relevan bagi kita yang tanpa sadar menjadikan kegiatan rohani sebagai sarana untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Karena itu, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita mencari-Nya karena Dia adalah Tuhan yang layak dihormati dan ditaati, atau karena apa yang dapat kita peroleh dari-Nya? Jika kita menyadari bahwa iman kita masih banyak berpusat pada diri sendiri—entah dalam mengejar rasa aman, kedudukan, atau pemenuhan kepuasan pribadi—datanglah kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan keterbukaan. Biarkan Roh Kudus menyelidiki, menegur, dan memperbarui hati kita. Melalui kasih karunia-Nya, Tuhan sanggup memurnikan motivasi dan menumbuhkan pengenalan yang benar akan Dia. Ketika kita semakin mengenal kasih dan karya keselamatan-Nya, kita tidak lagi mencari Tuhan semata-mata demi berkat, melainkan karena Ia telah terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita. Dari hati yang diperbarui itu lahirlah kerinduan untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya, berjalan dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan menjadi saluran berkat bagi kemuliaan nama-Nya. [SR]