Bacaan Alkitab hari ini menceritakan para tua-tua Israel yang datang kepada nabi Yehezkiel untuk mencari petunjuk dari Tuhan – kemungkinan untuk mencari jawaban dan kepastian mengenai lamanya pengasingan mereka, atau kabar tentang keadaan di Yerusalem. Secara lahiriah, mereka tampak rohani karena ingin mendengar firman-Nya. Namun Tuhan menunjukkan bahwa persoalan terbesar mereka bukanlah keadaan di luar diri mereka, melainkan berhala yang masih mereka pelihara dalam hati (Yeh. 14:3). Berhala itu adalah segala sesuatu yang diam-diam mengambil tempat Tuhan sebagai sumber pengharapan, identitas, dan kepercayaan. Inilah bahayanya berhala hati. Ketika hidup berjalan baik, berhala itu sering kali tidak terlihat. Kita tetap beribadah, melayani, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi sesungguhnya hati kita tidak sepenuhnya menjadikan Tuhan sebagai yang terutama, sampai akhirnya situasi sulit menekan kita dan menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati kita.
Dari sini, kita paham bahwa tekanan akan menunjukkan apa yang selama ini menguasai hati kita. Ketika rasa aman terguncang, rencana berantakan, atau harapan tidak terpenuhi, kita mulai melihat dengan jujur kepada apa atau siapa sebenarnya kita bergantung. Apa yang paling kita takutkan untuk kehilangan, sering kali mengungkapkan tempat kita menaruh rasa aman dan pengharapan. Meski tekanan tidak menyenangkan, Tuhan kerap mengizinkan tekanan sebagai sarana kasih dan anugerah-Nya untuk memurnikan hati kita. Melalui tekanan, Ia membuat kita melihat ketergantungan-ketergantungan yang salah agar kita menyadari bahwa hanya Dia yang sanggup menopang hidup kita. Tuhan tidak sedang merampas kesenangan kita; Ia sedang melepaskan kita dari sandaran yang rapuh dan mengarahkan kita kepada diri-Nya yang tidak pernah berubah. Karena itu, ketika tekanan datang, jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan. Mintalah juga agar Ia menyingkapkan isi hati kita. Ketika berhala hati disingkapkan dan kita meresponsnya dengan pertobatan, kita belajar bahwa apa yang selama ini kita andalkan tidak pernah dirancang untuk menjadi dasar hidup kita. Sebaliknya, kita kembali kepada Tuhan dan menemukan bahwa hanya Dia yang setia dan tidak pernah gagal menopang hidup kita. [JW]