Manusia bisa merasionalisasi dosa untuk membenarkan dirinya sendiri. Saat gagal menjaga integritas, kita bisa berkata, "semua orang juga melakukannya". Ketika melukai seseorang, kita bisa berkata "kebodohannya memancing emosi saya". Saat mengabaikan tanggung jawab, kita berdalih, "Saya terlalu sibuk dan banyak tekanan." Lebih nyaman membela diri daripada mengakui kesalahan. Dengan alasan-alasan yang terdengar logis, dosa tampak tidak terlalu buruk.
Hal inilah yang terjadi pada Daud. Setelah berzinah dengan Batsyeba, ia memerintahkan Yoab menempatkan Uria di garis depan pertempuran agar ia tewas. Yoab kemudian mengatur strategi yang membuat pasukan Raba menyerang balik, sehingga beberapa prajurit gugur, termasuk Uria. Saat menerima laporan itu, respons Daud mengejutkan, "Sebab sudah biasa pedang makan orang ini atau orang itu" (2 Sam. 11:25). Sekilas, perkataan itu terdengar seperti sikap seorang raja yang realistis menghadapi perang. Namun sesungguhnya, Daud sedang menutupi dosanya dengan alasan yang tampak masuk akal. Ironisnya, Daud bahkan mendorong Yoab untuk terus berperang dengan berani, seolah tidak terjadi apa-apa. Rasionalisasi dosa memang berbahaya. Hati nurani dapat menjadi tumpul sehingga seseorang merasa dirinya benar, padahal sedang menghidupi kesalahan. Daud yang dahulu peka terhadap suara Tuhan kini dapat berbicara dingin tentang kematian seseorang yang sangat setia kepadanya. Pada akhirnya, Tuhan menyingkapkan dosa Daud melalui nabi Natan. Daud pun harus menanggung konsekuensi yang berat, dimana pedang akan selalu membayang-bayangi keluarganya (2 Sam. 12:10). Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa dosa yang kita rasionalisasi tidak pernah menjadi rasional di hadapan Tuhan. Karena itu, jangan menutupi kesalahan dengan berbagai alasan. Lebih baik datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur, sebab pengakuan dan pertobatan membuka jalan bagi pemulihan yang Ia sediakan. [RS]