Penyapihan adalah proses pengalihan pola makan anak dari ASI atau susu formula ke sumber nutrisi lain yaitu makanan padat. Seorang anak yang disapih akan melewati fase kehilangan kenyamanan lamanya. Ia menangis, gelisah, dan tidak mengerti mengapa sumber kehangatan yang biasa ia nikmati tidak diberikan lagi. Sebelum anak disapih, ia akan memeluk ibunya dengan pikiran akan makanan dan kepuasan instan. Tetapi seorang anak yang disapih akan mulai menyadari bahwa ketika ibunya tidak lagi memberikan sesuatu, bukan berarti sang ibu tidak hadir. Anak yang disapih akan belajar untuk mencari ibunya karena kerinduan akan kedekatan, persahabatan, dan kasih sayang; bukan hanya pemberian ibunya.
Seperti itulah kerinduan Daud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mazmur 131 menggambarkan jiwa Daud yang begitu tenang; yang telah melewati badai kecemasan karena berbagai macam keinginan dan tuntutanâbukan karena keadaannya sempurna, tetapi karena Daud sudah berhenti memaksa Tuhan untuk memenuhi keinginannya, Daud sudah berhenti gelisah ketika ia tidak mengerti jalan-jalan Tuhan, dan Daud mulai mempercayai Tuhan karena siapa Dia, bukan sekadar karena doa yang dikabulkan, bukan karena pintu yang dibukakan, dan bukan karena mukjizat yang diperbuat-Nya. Sadarkah kita, seiring berjalannya waktu, Tuhan juga menyapih kita dari rasa aman yang fana (uang, jabatan, orang), dari pola doa yang penuh tuntutan, dari ambisi rohani yang diam-diam bersandar pada kekuatan diri sendiri, dan juga dari dorongan untuk mengontrol segala hasil. Ketika itu terjadi, jujur hati kita pasti goyah pada awalnya. Tetapi di situlah Tuhan sedang mengarahkan kita pada ketenangan yang sejati, yaitu Pribadi-Nya. Ketenangan seorang anak yang disapih bukan karena hidupnya nyaman, tetapi karena setelah ia menangis dan tidak mengerti apa yang terjadi, ia akhirnya menerima dan mempercayai bahwa ibunya tetap mengasihinya, sekali pun dengan cara yang berbeda. Begitu pula dengan jiwa kita di hadapan Tuhan. Roh Kudus menuntun kita dari iman yang rewel menuju iman yang berserah, dari iman yang mudah goyah menuju iman yang diam dan tenang dalam naungan-Nya. Karena itu, seperti nasihat Daud, "Ya Israel, engkau juga hendaknya mempercayakan diri kepada TUHAN -- sekarang sampai selama-lamanya." (Maz. 131:3 FAYH). Ketika kita mulai mempercayakan diri kita kepada-Nya, hati kita akan menemukan keteduhan. Melalui penyapihan dari ambisi dan keinginan kita yang egois, kita belajar merendahkan hati, menenangkan jiwa, dan belajar diam dalam hadirat Tuhan. Karena itu, mari belajar hidup seperti anak yang disapihâtenang, berserah, dan percaya. Berharaplah kepada Tuhan, hari ini dan di sepanjang hidup kita. Dialah satu-satunya tempat jiwa kita dapat beristirahat dengan aman. [LS]