Untuk segala sesuatu ada masanya, termasuk teguran dan didikan yang Tuhan pakai untuk membentuk hidup kita. Seperti orang tua mendidik anaknya agar tidak membiarkan kebiasaan buruk bertumbuh menjadi karakter yang jahat di masa depan, demikian juga Allah mendidik bangsa Israel di padang gurun melalui hukum Taurat dan berbagai teguran-Nya. Namun sayangnya, mereka terus mengeraskan hati dan mengabaikan perintah Tuhan. Padahal, mereka telah melihat kuasa Allah secara nyata: mereka telah dibebaskan dari Mesir, dipelihara di padang gurun, dan menerima firman Tuhan berulang kali. Tetapi mereka terus bersungut-sungut, tidak percaya, dan menolak didikan Tuhan. Betapa mengerikannya ketika mujizat Tuhan pun sudah tak lagi meneguhkan iman, dan teguran Tuhan tak lagi menghasilkan pertobatan. Inilah tandanya saat seseorang telah dibutakan oleh tipu daya dosa. Alhasil, semakin mereka mengabaikan teguran dan firman Allah, maka semakin tumpul hati mereka terhadap suara-Nya. Akibatnya, generasi pertama Israel yang keluar dari Mesir binasa di padang gurun, dan hanya Yosua serta Kaleb yang masuk ke tanah perjanjian.
Kisah Bangsa Israel ini memperlihatkan bagaimana hati yang terus-menerus mengabaikan suara Tuhan akan semakin tumpul dan kebal. Pengabaian demi pengabaian perlahan menguasai hati, dan membawa seseorang semakin jauh dalam pemberontakan terhadap Tuhan. Karena itu, hati-hatilah, jangan sampai hati kita menjadi kebal. Hari ini adalah hari bagi kita untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing: adakah dosa yang masih kita pelihara? Adakah teguran dan suara Tuhan yang selama ini kita abaikan? Jika hari ini Allah menegur kita melalui firman-Nya, rendahkanlah hati, datanglah kepada-Nya, dan bertobatlah. Jangan pernah abaikan suara Tuhan selagi Ia masih memberi kesempatan kita untuk merespons dan berbalik kepada-Nya. [AP]