Tokoh Amerika, Benjamin Franklin pernah berkata, "waspadalah terhadap celah kecil; kebocoran kecil dapat menenggelamkan kapal yang besar". Begitu juga yang terjadi saat kita berkompromi dengan dosa. Jarang ada orang yang langsung hancur dalam satu keputusan. Semuanya sering dimulai dari kompromi kecil, seperti: membiarkan pikiran yang salah, menunda ketaatan, berbohong demi menjaga diri, menikmati hal-hal yang Tuhan tidak sukai, dan terus mengulang dosa yang sebenarnya sudah ditegur Tuhan. Awalnya, kita berpikir "cuma sekali ini saja" atau "ah, ini kan tidak seberapa." Masalahnya, saat kita mulai terbiasa berkompromi, nurani kita jadi makin tumpul. Kita tidak sadar bahwa setiap kali kita menggeser batasan moral kita sedikit demi sedikit, kita sebenarnya sedang berjalan menuju jurang. Selama hidup kita masih terlihat "baik", dan selama masalah belum datang, kita merasa kompromi itu aman-aman saja dilakukan.
Salah satu contoh paling jelas tentang bahaya kompromi adalah kisah Simson. Ia terus bermain-main dengan kehidupan yang penuh kompromi. Di ayat 1, ia menghampiri seorang perempuan sundal di Gaza. Ini menunjukkan Simson yang mulai bermain-main dengan batas, sekaligus tanda ia tidak menjaga panggilannya. Di ayat 4, Simson jatuh cinta kepada Delila. Ini sendiri bukan dosa, tapi ia berkompromi dalam hubungan yang jelas-jelas menjebak dan berbahaya baginya. Di ayat 17, Simson jadi terbiasa mengikuti keinginannya sendiri sampai akhirnya ia membuka rahasia kekuatannya kepada Delila. Akibatnya, ia ditangkap musuh, kehilangan kekuatannya, lalu hidup sebagai tawanan dan bahan ejekan orang Filistin sebelum akhirnya mati secara tragis bersama musuh-musuhnya. Berkali-kali Simson mengalami kemenangan meskipun terus bermain-main dengan batas. Namun keberhasilan tidak selalu berarti Tuhan berkenan. Kesabaran Tuhan bukan persetujuan atas dosa, melainkan kesempatan untuk bertobat. Tragisnya, Simson baru menyadari akibat dari komprominya justru ketika ia tak sadar bahwa Tuhan telah meninggalkannya (Hak. 16:20). Delila bukan penyebab utama kejatuhannya, melainkan pemicu yang menyingkapkan hati Simson yang penuh kompromi dan kesombongan. Ia merasa diri kuat dan tidak mungkin jatuh, padahal kehancurannya sudah dimulai jauh sebelumnya. Karena itu, jagalah diri kita dari bentuk-bentuk kompromi. Jangan terbiasa dengan hal-hal yang menodai panggilan kita, jangan terbiasa dengan kebanggaan diri yang berlebihan, dan jangan tunggu semuanya hancur baru kita sadar bahwa Tuhan telah menarik kuasa dan perkenanan-Nya atas kita. [KH, LS]