Kita hidup di zaman di mana kepercayaan menjadi semakin mahal. Berita bohong, pengkhianatan, janji yang diingkari, dan kekecewaan terhadap figur publik membuat banyak orang memilih satu pola dalam hubungan, yaitu curiga lebih dulu. Sikap ini dapat berkembang menjadi sinisme, hati yang tertutup, relasi yang dingin, kecenderungan menilai motif orang secara negatif, dan kesulitan membangun kepercayaan. Tanpa sadar, kebiasaan ini menyerupai sikap paranoid—ketika seseorang terus-menerus merasa terancam atau mencurigai orang lain tanpa dasar yang memadai.
Kita tidak menampik bahwa manusia bisa mengecewakan. Namun bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bahwa persoalannya sering kali lebih dalam dari sekadar siapa yang melukai kita. Yang perlu direnungkan adalah kepada siapa kita menaruh sandaran hati. Tuhan telah memperingatkan agar kita tidak mengandalkan manusia dan tidak menjadikan kekuatan manusia sebagai tumpuan, sementara hati kita menjauh dari Tuhan. Bukan berarti kita tidak boleh mempercayai orang lain, tetapi manusia tidak pernah dirancang menjadi fondasi utama dari rasa aman, pengharapan, serta identitas kita. Ketika hati terlalu bergantung pada manusia, kekecewaan akan melahirkan reaksi-reaksi ekstrem. Pernah kecewa, lalu menutup diri. Pernah disakiti, lalu selalu curiga. Pernah gagal, lalu berhenti berharap. Karena itu, yang perlu dievaluasi bukan hanya siapa orang yang telah mengecewakan kita, tetapi kepada siapa selama ini kita menggantungkan rasa aman dan percaya. Yeremia berkata bahwa orang yang berharap kepada Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air. Ia tetap hijau, tidak takut ketika panas datang, dan tidak berhenti menghasilkan buah. Artinya, sumber hidupnya tidak ditentukan oleh keadaan di luar dirinya. Lingkungan boleh keras, manusia boleh gagal, relasi boleh mengecewakan, tetapi akarnya tetap terhubung kepada Tuhan yang tidak berubah. Ketahuilah, belajar untuk kembali percaya bukan berarti kita naif atau menghapus batas yang sehat. Iman Kristen juga tidak mengajarkan kepercayaan buta kepada semua orang, melainkan hati yang sepenuhnya bersandar kepada Allah sehingga kita dapat mengasihi dan berelasi dengan bijaksana. Ketika Tuhan menjadi fondasi kepercayaan kita, kekecewaan tidak perlu melahirkan sinisme, dan luka tidak harus membuat kita tertutup. Sebaliknya, Tuhan memakai semua itu untuk mendewasakan hati kita. Saat hati kita kembali tertambat pada Tuhan, kita dapat hidup dengan bijaksana tanpa kehilangan kehangatan, tetap berharap tanpa menjadi naif, dan tetap mencerminkan karakter Kristus dalam hubungan kita dengan sesama. [LS]